KISAH-KISAH AL-QUR’AN (QASHASH AL-QUR’AN)

Januari 21, 2014
BAB II
PEMBAHASAN


     A.    Pengertian Kisah (Qoshosh)

       Kisah berasal dari kata al-qoshshu berarti mencari atau mengikuti jejak. Dikatakan “qashashtu atsarahu”artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah bentuk masdar. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا (٦٤)
“Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)

       Maksunya, kedua orang dalam ayat itu kembali lagi untuk mengikuti jejak dari mana keduanya itu datang. Dan firman-Nya melalui lisan ibu Musa alayhis salam,
وَقَالَتْ لأخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (١١)
“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia"…” (QS. Al-Qashash: 11). Maksudnya, ikutilah jejaknya sampai kamu melihat siapa yang mengambilnya.

       Qashash berarti berita yang berurutan. Firman Allah:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ (٦٢)
“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar…” (QS. Ali-Imran: 62)
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ (١١١)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…” (QS. Yusuf: 111). Sedang al-qishash berarti urusan, berita, perkara dan keadaan.

       Qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang hal ihwal ummat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap ummat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona.


B.     Jenis-jenis Kisah Dalam Al-Qur’an

       Kisah-kisah dalam al-Qur’an terbagi atas beberapa jenis, di antara jenis tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Kisah para nabi. Kisah ini mengandung dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap-sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akibat yang diterima oleh mereka oleh masyarakat yang mempercayai dan golongan yang mendustakan. Misalnya kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, Isa, Muhammad dan nabi-nabi serta rasul lainnya.
2.      Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Misalnya kisah orang yang keluar dari kampung halaman, yang beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putra Adam, penghuni gua, Zulkarnain, orang-orang yang menangkap ikan pada hari Sabtu, Maryam, Ashabul Ukhdud, Ashabul Fil (pasukan gajah) dan lain-lain.
3.      Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah, seperti perang Badar dan perang Uhud dalam surah ‘Ali ‘Imran, perang Hunain dan Tabuk dalam surah At-Taubah, perang Ahzab dalam surat Al-Ahzab, hijrah, Isra-Mi’raj, dan lain-lain.


C.    Faidah Kisah-kisah Al-Qur’an


       Kisah-kisah dalam Al-Qur’an mempunyai banyak hikmah. Di dalam bukunya, Syaikh Manna al-Qaththan menyebutkan beberapa faidah tersebut, di antaranya:
1)      Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah dan menjelaskan pokok-pokok syari’at yang dibawa oleh para nabi,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ (٢٥)
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku." (QS. Al-Anbiya: 25)
2)      Meneguhkan hati Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dan hati ummat Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam atas agama Allah, memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya.
وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (١٢٠)
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud: 120)
3)      Membenarkan para Nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya.
4)      Menampilkan kebenaran Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam dakwahnya dengan apa yang diberitakannya tentang hal ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi.
5)      Menyingkap kebohongan ahli kitab dengan cra membeberkan keterangan yang semula mereka sembunyikan, kemudian menantang mereka dengan menggunkan ajaran kitab mereka sendiri yang masih asli, yaitu sebelum kitab itu diubah dan diganti. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٩٣)
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya'qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah Dia jika kamu orang-orang yang benar." (QS. Ali Imran: 93)

6)      Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar mempengaruhi jiwa. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ (١١١)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…” (QS. Yusuf: 111).


D.    Pengulangan Kisah Dalam Al-Qur’an dan Hikmahnya

       Kisah dalam al-Qur’an terkadang diulang beberapa kali dengan tempat dan bentuk yang berbeda. Terkadang di satu tempat ada kejadian-kejadian dalam kisah tersebut yang didahulukan dan terkadang di di tempat lain diakhirkan. Demikian juga terkadang kisah tersebut dimuat secara ringkas dan terkadang dipaparkan secara panjang lebar. Di antara hikmahnya adalah sebagai berikut:
1.      Menjelaskan ke-balaghah-an al-Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Sebab di antara keistimewaan balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai macam bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang tersebut diungkapkan di setiap tempat dengan gaya dan pola yang berbeda sehingga tidak menjadikan bosan bagi orang yang menikmatinya, bahkan dapat menambah makna-makna baru yang tidak didapatkan pada kisah di tempat yang lain.
2.      Menunjukkan kehebatan mukjizat al-Qur’an. Mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk yang berbebeda di mana sastrawan Arab tidak dapat menandinginya adalah merupakan suatu tantangan dahsyat dan menjadi bukti bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.
3.      Memberikan perhatian besar terhadap kisah-kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih berkesan dan melekat dalam jiwa. Pada dasarnya pengulangan adalah salah satu metode pemantapan nilai dan pemahaman. Misal kisah tentang Musa alayhis salam dan Fir’aun. Kisah ini mendeskripsikan secara sempurna perseteruan sengit antara al-haq dan al-batil. Dan pengulangan kisah tersebut tidak pernah terjadi dalam satu surat.
4.      Setiap kisah memiliki maksud dan tujuan berbeda. Karena hal inilah kisah-kisah tersebut diungkapkan pada tiap-tiap kesempatan. Sebagia dari makna-makna yang terkandung itulah yang diperlukan, sedang makna-makna yang lainnya dapat ditemukan di tempat-tempat lain, sesuai dengan tuntuan keadaan.


E.     Relevansi Kisah Dalam Al-Qur’an dengan Sejarah

       Seorang muslim yang benar adalah mengimani bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah subhanahu wa ta’ala). Dia suci dari unsur seni yang tidak perduli dengan realitas sejarah. Kisah-kisah dalam al-Qur’an semuanya mengandung fakta dalam sejarah yang dilukiskan dengan indah dan menarik.

       Syaikh Manna al-Qaththan menceritakan bahwa ada salah seorang mahasiswa di Mesir yang menulis dalam desertasinya tentang kisah-kisah dalam al-Qur’an. Desertasi tersebut berisi tentang ketidak relevanan al-Qur’an dengan realitas sejarah. Mahasiswa ini bernama Dr. Muhammad Ahmad Khalafullah. Pada intinya desertasi itu mengatakan bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan karya seni yang tunduk kepada daya cipta dan kreatifitas seni, tanpa harus berpegang pada kebenaran sejarah. Atas dasar prinsip ini ia menulis desertasinya, dari awal sampai akhir. Mahasiswa ini juga menulis dalam desertasinya bahwa al-Qur’an telah menciptakan beberapa kisah, dan ulama-ulama terdahulu telah melakukan beberapa kesalahan dengan menganggap bahwa kisah dalam al-Qur’an tersebut sebagai suatu peristiwa sejarah yang dapat dipegang kebenarannya…

       Al-Qur’an suci dari semua kecacatan seperti yang diungkapkan oleh mahasiswa pembuat desertasi itu. Ia diturunkan dari sisi Yang Mahatahu, Maha Bijaksana. Dalam berita-berita-Nya tidak ada yang tidak sesuai dengan kenyataan. Apabila orang yang terhormat saja tidak mau berdusta dan menganggap dusta sebagai perbuatan hina yang sangat buruk yang dapat merendahkan martabat manusia, maka bagaimana seorang yang berakal dapat menghubungkan kedustaan kepada kalam Yang Mahamulia dan Mahaagung?

      Allah adalah Tuhan Yang Haq, mengutus para Nabi dan Rasul dengan haq serta kisah-kisah dalam al-Qur’an yang dikisahkan-Nya pun adalah haq. Allah berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (٦٢)
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al-Hajj: 62)
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلا خَلا فِيهَا نَذِيرٌ (٢٤)
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24)
وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ
“Dan kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar.” (QS. Ar-Ra'du: 1)
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar.” (QS. Al-Kahfi: 13)
نَتْلُوا عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (٣)
“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.”( QS. Al-Qashash: 3)


F.     Urgensi Mengetahui Kisah-kisah dalam Al-Qur’an

       Kisah yang baik dan cermat akan digemari dan dapat menembus jiwa manusia dengan mudah sehingga segenap perasaan akan mengikuti alur kisah tersebut tanpa merasa jemu dan kesal. Akal pun dapat memetik keindahan yang beraneka ragam darinya.

       Pelajaran yang disampaikan dengan metode khutbah terkadang membosankan. Oleh karena itu, narasi kisah sangat bermanfaat dan mengandung banyak faidah. Pada umumnya anak-anak dan orang tua suka mendengarkan cerita-cerita. Dan biasanya kisah-kisah yang diceritakan lebih mudah untuk diingat dan difahami untuk selanjutnya ia dapat menirukan dan mengisahakannya.

       Dalam kisah-kisah al-Qur’an terdapat banyak lahan subur yang dapat membantu kesuksesan para pendidik dalam melaksanakan tugasnya, seperti pola hidup para Nabi, berita-berita tentang ummat terdahulu, sunnatullah dalam kehidupan masyarakat dan hal ihwal bangsa-bangsa. Semua itu dikatakan dengan benar dan jujur.


BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan

     Kita dapat mengambil kesimpulan dari pemaparan makalah ini, yaitu:
    
Secara istilah qishashul quran didefinisikan sebagai pemberitaan dalam Al Quran tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat kenabian yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.

Kisah dalam Al-Qur’an ada tiga macam, yaitu (1) kisah para nabi terdahulu, kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu; (2) kisah orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya; dan (3) kisah-kisah yang terjadi pada masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Tujuan kisah-kisah yang ditampilkan Al-Qur’an adalah agar dapat dijadikan pelajaran dan sekaligus sebagai petunjuk yang berguna bagi setiap orang beriman dalam rangka memenuhi tujuan diciptakannya yaitu sebagai abdi dan kholifah di bumi dan isinya

Karakteristik kisah Al-Qur’an yaitu Kisah-kisah al-Qur’an berupa peristiwa nyata yang benar-benar terjadi, Kisah-kisah Al-Qur’an sejalan dalam kehidupan manusia, Kisah-kisah al-Qur’an tidak sama dengan ilmu sejarah, Kisah Al-Quran sering diulang-ulang.


BAB IV
DAFTAR PUSTAKAN

1.      Al-Qur’an al-Karim
2.      Pengantar Studi al-Qur’an oleh Syaikh Manna Al-Qaththan
3.      Makalah-makalah

Artikel Terkait

Previous
Next Post »