Solidaritas Antar Sesama (Anjuran Berbuat Baik Kepada Sesama)

Juni 15, 2015
            Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Begitu juga para pemuda, mereka membutuhkan teman dalam menjalani masa mudanya. Satu sama lain saling membutuhkan dan saling melengkapi karena memang begitulah manusia tak mungkin hidup menyendiri di muka bumi ini. Meskipun demikian, bukan berarti kita bebas bergaul dan menjalin kedekatan dengan sembarang orang. Sebagai seorang muslim, kita dituntut selektif dalam memilih teman bergaul. Sebab, teman akrab akan sangat mempengaruhi akhlak dan kepribadian seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah seorang dari kalian hendaknya memperhatikan siapa yang akan dia jadikan teman.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

            Seorang muslim dengan muslim yang lainnya terikat oleh satu ikatan yang sangat kokoh, yaitu ikatan ukhuwah (persaudaraan) dalam agama. Di atas persaudaraan inilah seorang pemuda muslim hendaknya membangun rasa solidaritas terhadap sesamanya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ ١٠
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara…” (QS. Al Hujurot: 10). Yaitu semua orang yang beriman adalah bersaudara dalam agama sebagaimana yang disabdakan oleh Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam:
المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Orang muslim adalah saudara orang muslim (lainnya), tidak menzhaliminya dan tidak pula membiarkannya dizhalimi.” (HR. Bukhari)



            Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam mengumpamakan rasa solidaritas antar sesama muslim bagaikan satu tubuh yang apabila salah satu anggota tubuh mengalami sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit yang sama. Beginilah hendaknya seorang pemuda muslim dengan saudara muslim yang lainnya senantiasa membangun rasa solidaritas yang tinggi. Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta-mencintai, kasih-mengasihi dan sayang menyayangi adalah seperti satu tubuh, apabila ada salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya juga akan merasakan rasa sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim)

            Perasaan setia kawan tersebut akan mendatangkan banyak kebaikan bagi pelakunya dan bagi saudaranya. Seseorang yang berbuat baik kepada temannya akan mendapatkan pahala atas perbuatan baiknya, sedangkan orang yang mendapat perlakuan baik darinya akan mendapat manfaat yang dapat dirasakannya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Az-Zalzalah: 7)

            Solidaritas antar sesama adalah salah satu prinsip utama dalam Islam. Alloh subhanahu wa ta’ala menghendaki hamba-hamba-Nya untuk saling setia kawan, tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ ٢
“..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..” (QS. Al-Maidah: 2)

            Ibnu Katsir rahimahullah  dalam menafsirkan ayat tersebut berkata; Alloh subhanahu wa ta’ala memerintahkan para hamba-Nya yang beriman agar saling tolong menolong dalam melakukan berbagai kebajikan. Dan itulah yang dimaksud dengan kata al-birr (kebaktian). Dan tolong menolonglah kalian dalam meninggalkan berbagai kemungkaran. Dan inilah yang dimaksud dengan takwa (dalam arti sempit, yakni menjaga untuk tidak melakukan kemungkaran).

            Solidaritas antar sesama jauh-jauh hari telah dicontohkan oleh generasi terbaik dari ummat ini, yaitu para shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah kaum terbaik dalam membangun rasa solidaritas terhadap sesama dan tak akan pernah ada yang mampu menandinginya. Kisah-kisah menakjubkan tentang mereka telah tercatat dalam tinta emas sejarah yang tak akan luntur oleh rentanya zaman. Kebaikan-kebaikan mereka terhadap sesamanya menjadi teladan bagi generasi setelahnya. Bukankah kita senantiasa mendengar tentang rasa setia kawan mereka terhadap saudaranya yang lain? Bukankah kisah mereka dalam mendahulukan temannya masih terngiang di telinga kita dan terbayang di mata-mata kita? Dalam keadaan terluka parah bersimbah darah di medan jihad ‘Ikrimah radhiyallahu ‘anhu  menolak diberi minum karena mendahulukan saudaranya yang juga membutuhkannya, begitu juga orang kedua lebih mendahulukan saudaranya, menolak diberi minum dan memberikan kepada orang ketiga dan seterusnya sampai akhirnya ia meninggal karena kehausan. Alloh subhanahu wa ta’ala pun mengabadikan rasa solidaritas mereka di dalam firman-Nya:
وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ٩
“…Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” (QS. Al-Hasyr: 9)

            Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa seseorang mendatangi Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rosululloh, saya tertimpa kesulitan.” Maka beliau pun mengutus seseorang kepada isterinya. Ketika tidak mendapatkan apa-apa, maka Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam  bersabda: “Ketahuilah, siapa yang bersedia menjamunya malam ini, maka Alloh akan memberikan rahmat kepadanya?”

            Seorang laki-laki dari Anshor bangkit dan berkata, “Saya, ya Rosululloh.” Dia pun pergi memberitahu keluarganya dan berkata kepada istirnya, “Dia adalah tamu Rosululloh, jadi jangan menyembunyikan makanan apapun.” Sang istri berkata, “Demi Alloh, kita hanya punya makanan untuk anak kita.” Sang suami berkata, “Apa bila anak kita ingin makan malam, maka tidurkanlah dia. Kemarilah kamu, matikanlah lampu dan kita berpuasa malam ini.” Sang istri pun menurutinya. Keesokan harinya laki-laki itu menghadap Rosululloh, maka beliau bersabda:
لَقَدْ عَجَبَ اللهُ عزوجل –أَوْ ضَحِكَ- مِنْ فُلَانٍ وَ فُلَانَةٍ
“Sungguh Alloh telah takjub – atau tertawa – (rawi ragu antara dua kata tersebut) dengan fulan dan fulanah.” (HR. Bukhari) Yakni Alloh subhanahu wa ta’ala takjub terhadap dua orang suami dan istri tersebut yang telah menunjukkan rasa solidaritas yang sangat tinggi kepada saudaranya seiman.

           Para pemuda muslim pun selayaknya meneladani mereka dalam memupuk rasa solidaritas terhadap sesama. Dalam sikap solidaritas terhadap sesama, ada beberapa manfaat besar yang akan diperoleh.


Artikel Terkait

Previous
Next Post »