Keutamaan Mengaku dan Mengalah

Maret 14, 2017
Oleh: Anas Abdillah, S.Ud

Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat lepas dari muamalah dengan orang lain. Setiap hari dan setiap saat kita akan bersinggungan dengan teman kita, tetangga kita atau orang lain yang kita baru mengenalnya.  Dalam pergaulan tersebut terkadang kita terjatuh pada perbuatan dosa dan kesalahan. Di antara dosa atau kesalahan kita adalah menzhalimi teman kita dengan perkataan dan perbuatan, mengambil barang orang lain, ingkar janji, berdusta dan lain sebagainya. Semua itu bisa terjadi pada setiap diri kita. Dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabada:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah no. 4241)

Mengakui kesalahan adalah sikap mulia yang terpuji dalam Islam. Dengannya Allah akan memberikan ampunan yang sangat luas. Sebesar apa pun dosa-dosa seorang hamba, jika ia bertaubat kepada Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni. Tatkala Nabi Adam 'alayhissalam bertaubat dari kesalahannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Dan sebaliknya, enggan mengakui kesalahan adalah perbuatan tercela yang membinasakan. Iblis enggan untuk mengakui kesalahannya, bahkan dia berlaku sombong atas penciptaannya, maka ia dilaknat sampai hari Kiamat dan dipastikan menjadi penghuni neraka.

Dalam pergaulan sehari-hari pun sangat mungkin terjadi perselisihan antar sesama teman. Hanya gara-gara masalah kecil, tidak jarang akhirnya dua orang saling mendiamkan, saling menjauh, kemudian putus pertemanan. Jika sudah begini, maka yang rugi adalah kita sendiri. Untuk menghindari hal itu, maka diperlukan kesabaran untuk mengalah. Mengalah adalah perbuatan positif yang sangat terpuji. Sebab menyerahkan hak kepada orang lain atau membuat orang lain memiliki apa yang seharusnya jadi milik kita adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan.

Teladan terbaik dalam hal ini adalah apa yang pernah terjadi pada para shahabat Nabi  shallallahu ‘alayhi wa sallam. Saat perang Yarmuk, Hudzaifah Al-Adawi hendak memberi minum saudara sepupunya yang kehausan. Terdengarlah suara orang mengaduh dan minta air, maka saudara sepupu Hudzaifah pun mengisyaratkan agar air itu diberikan kepadanya. Ternyata orang itu adalah Hisyam bin Al-Ash. Ketika Hudzaifah hendak memberi minum kepadanya, mereka mendengar suara orang kehausan. Hisyam mengisyaratkan agar Hudzaifah memberikan air tersebut kepada orang itu. Segerah Hudzaifah menuju orang tersebut, namun ia telah meninggal. Hudzaifah pun kembali kepada Hisyam. Tetapi, Hisyam juga sudah meninggal. Begitu juga saudara sepupunya telah meninggal. Allah Akbar..!! Mereka meninggal karena mengalah untuk saudaranya.

Meski dalam posisi benar, kita diperintahkan untuk mengalah dan meninggalkan debat kusir. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia benar, akan dibangunkan rumah untuknya di tengah surga.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik).

Besarnya pahala kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang meninggalkan perselisihan menunjukkan agungnya sifat mengalah. Barangsiapa yang ingin mendapat jaminan rumah di tengah surga, maka perbanyaklah mengalah dari teman-temannya.


Mengaku dan mengalah adalah dua sifat yang sangat agung dan mulia. Mengakui kesalahan dan sifat mengalah hanya dimiliki oleh orang-orang pilihan yang diberi hidayah. Untuk itu, mari kita perbanyak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosa dan kesalahan kita dan mari kita budayakan mengalah dalam hal-hal selain ibadah. Wallahu a’lam.

INFORMASI HASMI:

Artikel Terkait

Previous
Next Post »