Loading...
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI ISLAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI ISLAMI. Tampilkan semua postingan

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN MELALUI UKHUWAH ISLAMIYAH

November 09, 2017 Add Comment



MENGGAPAI KEBAHAGIAAN MELALUI UKHUWAH ISLAMIYAH

Urgensi Pembahasan
Pembahasan materi ukhuwah Islamiyah pada zaman ini menjadi sangat penting karena semakin memudarnya ikatan ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah umat Islam dan banyaknya kekeliruan dalam hal wala wal bara (loyalitas dan disloyalitas).

Definisi Ukhuwah
Kata ukhuwah menurut bahasa berasal dari kata “akhun” artinya berserikat dengan yang lain karena kelahiran dari dua belah pihak, atau salah satunya atau karena persusuan. Lalu kata ini dipakai untuk perserikatan, persaudaraan kabilah, agama, hubungan antar manusia, kasih sayang, dan keperluan lainnya. Mufradat Alfazhil Qur’an, Al Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani.

Ukhuwah menurut bahasa ialah saudara  sekandung, sebapak, seibu, atau sepersusuan. Lalu istilah ini digunakan  untuk  kepentingan  lain, persaudaraan antara  Negara, antara  suku  dan desa lain.

Dalam kamus-kamus bahasa arab  ditemukan  bahwa  kata  akh yang membentuk  kata  ukhuwah digunakan  juga  dengan  arti teman akrab atau sahabat.

Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

Perintah Menjalin Ukhuwah Dalam Al-Qur’an dan Hadits
Salah satu faktor terbesar yang bisa membawa umat Islam kepada kemuliaan adalah jika mereka bersatu padu (menjalin ukhuwah) di atas landasan agama Islam, mengikuti petunjuk Allah dan tidak mengikuti hawa nafsu pribadi.

Karena begitu pentingnya ukhuwah antar kaum Muslimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala menekankan hal itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya:

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٠)
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Tafsir Ibnu Katsir:
Yaitu semua orang yang beriman adalah bersaudara dalam agama sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Orang muslim adalah saudara orang muslim (lainya), tidak menzhaliminya dan tidak pula membiarkannya dizhalimi.” (HR. Al Bukhari, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Disebutkan dalam kitab shahih, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
“Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim, no. 2669. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Dalam kitab Ash-Shahih juga disebutkan:
إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: آمِيْنَ، وَلَكَ بِمِثْلِهِ.
“Jika ada seorang muslim mendo’akan saudaranya tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka para Malaikat akan mengamininya dan berkata, “Dan untukmu juga seperti (isi do’amu).” (HR. Muslim, no. 2732, dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu)

Disebutkan juga dalam kitab shahih:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. ))أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ(( (
“Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur.” [HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim].

Dalam kitab Ash-Shahih juga disebutkan:
(اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا) وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ صلى الله عليه وسلم
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. Rasululla shallallahu ‘alayhi wa sallam menyilangkan jari-jarinya.” [HR. Bukhari, no. 481, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu].

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (١١)
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11)

Tafsir Al-Qurthubi:
Firman Allah, فَإِنْ تَابُوا “Jika mereka bertaubat,” maksudnya adalah bertaubat dari kemusyrikan dan menetapi hukum-hukum Islam.

Firman Allah, فَإِخْوَانُكُمْ “Maka adalah saudara-saudaramu,” maksudanya adalah, merekalah saudara-saudaramu, فِي الدِّينِ “seagama.”

Ibnu Abbas radhiyallau ‘anhuma berkata, “Ayat ini mengharamkan darah para ahli kiblat.” (Atsar ini disebutkan oleh Ath-Thabari dalam Jami’ Al Bayan (8/62))

Ibnu Zaid berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibakan shalat serta zakat, dan tidak suka jika keduanya dipisahkan. Dia juga tidak suka menerima shalat kecuali dengan zakat.” (Atsar ini disebutkan oleh Ath-Thabari dalam Jami’ Al Bayan (8/62))

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalian diperintahkan untuk menunaikan shalat dan zakat. Oleh karena itu, barangsiapa tidak pernah berzakat, maka tidak ada shalat baginya.” (Atsar ini disebutkan oleh Ath-Thabari dalam Jami’ Al Bayan (8/62))

Nikmat Ukhuwah dan larangan berpecah belah
3. Allah Subnahahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Nikmat ukhuwah (persatuan) adalah nikmat yang sangat besar.
Firman Allah (وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا)  “Dan berpeganglah kamu semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” Ada yang berpendapat, (بِحَبْلِ اللَّهِ) Kepada tali (agama) Allah,” Maksudnya Adalah kepada Janji Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya pada ayat yang akan disebutkan nanti:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ ) )  “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (QS. Ali Imran : 112) yakni dengan perjanjian dan perlindungan.

Firman Allah, ( وَلا تَفَرَّقُوا) “Dan janganlah kamu bercerai-berai.” Allah memerintahkan mereka untuk bersatu dalam jama’ah dan melarang perpecahan.

Banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam  yang melarang perpecahan dan memerintahkan persatuan. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahiih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْ بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإضَاعَةَ الْمَال
”Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara bagi kalian dan membenci tiga perkara bagi kalian. Dia ridha jika kalian (pertama) beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, (kedua) berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai dan (ketiga) setia kepada orang yang telah Allah serahi untuk menjalankan urusan kalian. Dan Dia membenci bagi kalian tiga perkara, yaitu (pertama) qiila wa qaala (membicarakan berita yang belum jelas), (kedua) banyak bertanya dan (ketiga) menghambur-hamburkan harta. [Muslim (III/1340). Muslim (no.1716)]

Firman Allah :
(وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ )
Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.”

Ayat ini berkenaan dengan kaum Aus dan Khazraj, sebab pada masa jahiliyah dulu, di antara mereka telah terjadi banyak peperangan, permusuhan yang sangat sengit, rasa dengki dan dendam yang menyebabkan terjadi pembunuhan  dan berbagai pertempuran.

Maka ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan Islam, mereka pun memeluknya, dan jadilah mereka bersaudara, saling mencintai karena Allah, saling menyambung hubungan, dan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah berfirman :

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ*  وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ
“Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Seandainya kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al Anfaal: 62-63)

Dahulu mereka berada di tepi jurang Neraka disebabkan kekufuran mereka. Kemudian Allah menyelamatkan mereka dengan memberi hidayah keimanan. Mereka telah diungkit-ungkit oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada pembagian ghanimah (harta rampasan perang) Hunain (dengan kata lain, mereka diingatkan kembali tentang kenikmatan yang telah mereka dapatkan dari Allah, dengan sebab diutusnya beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ini terjadi pada saat salah seorang di antara mereka mencela Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam,  karena beliau melebihkan yang lain dalam pembagian ghanimah, padahal Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah melaksanakan tugasnya sesuai petunjuk Allah kepadanya.

Kemudian Beliau berseru kepada mereka:

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ بِي، وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمُ اللَّهُ بِي، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ الله بي؟
“Wahai sekalian kaum Anshar, bukankan aku mendapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku, dan dahulu kalian dalam keadaan terpecah-belah, kemudian Allah menyatukan hati kalian melalui diriku, dan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah menjadikan kalian kaya melalui diriku?

Setiap kali Rasulullah mengatakan sesuatu, maka mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya telah memberikan karunia (lebih dari yang disebutkan)”.
[An-Nasa-i dalam AL-Kubra (V/91)/ Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari (no.4330), Muslim (no.1061). Dan ini lafazh al-Bukhari dan Muslim]

Perhatikan, bagaimana Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam mensejajarkan nikmat persatuan setelah perpecahan itu dengan nikmat mendapatkan petunjuk setelah tersesat dan kaya setelah miskin. Jadi, nikmat ini (persatuan umat Islam), merupakan salah satu nikmat paling besar, maka sudah selayaknya jika:

Pertama, Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam sangat concern untuk mewujudkan persatuan ini dan mengupayakan agar tidak terjadi perselisihan, umat Islam bisa satu kata, sebagaimana agama mereka juga satu, usaha mereka untuk membela Agama Alloh sesuai dengan yang mereka yakini juga satu.

Kedua, mereka harus mewujudkan persatuan ini dengan menghindarkan segala hal yang menumbuhkan perpecahan, perselisihan, dan kekacauan. Karena meyengaja melakukan hal-hal di atas, yakni persengketaan, perselisihan, dan kekacauan tidak diragukan lagi merupakan penghancuran terhadap umat Islam.

Firman Alloh:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٤)وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٥)
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyurpai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali-Imron: 104-105)

Siapa yang mengatakan, ”Janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah…..?” Siapa? Dia-lah Alloh! Alloh-lah yang melarang kita berpecah belah atau menjadi seperti orang-orang yang telah berpecah belah. Ini ayat ini juga menunjukan bahwa berpecah belah dalam Agama merupakan tasyabbuh dengan orang-orang kafir yang telah mendahului kita berpecah belah.

Allah berfirman:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (١٣)
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah Agama dan jangan berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik, agama yang kamu seru mereka kapadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (QS. Asy-Syuro: 13)

Perhatikan! “Tegakkanlah Agama dan jangan berpecah belah di dalamnya”  yakni dalam Agama. “Terasa berat bagi orang-orang kafir apa yang kamu serukan kepada mereka.”  Pada ayat di atas, terlebih dulu Alloh menyebutkan Rosul pertama, yaitu Nuh, kemudian mengakhirinya dengan menyebut Rosul terakhir, yaitu Muhammad Sholallohu’alaihi wa sallam.

Alloh berfirman kepada Nabi-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (١٥٩)
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah Agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 159)


6 Hal Yang Dapat Kita Raih Dari Ukhuwah Islamiyyah

Merajut dan menjaga ukhuwah Islamiyyah memiliki banyak sekali kebahagiaan. Di antaranya:
1. Orang-orang yang merajut ukhuwah Islamiyyah akan merasakan lezatnya iman. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." (HR. Bukhari)

2. Orang-orang yang merajut ukhuwah Islamiyyah akan mendapat naungan pada hari Kiamat.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam hadits qudsi:
إِنَّ اللهَ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَينَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلالِي، الْيَومَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلِّي
“Allah berfirman pada hari Kiamat, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganku.”” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ تَعَلَي فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّي لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَضَتْ عَيْنَهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah, yaitu: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mengasihi karena Allah, mereka bertemu dan berpisah di jalan Allah, seorang laki-laki yang dipanggil oleh seorang wanita yang memiliki nasab dan kecantikan lalu berkata, ‘Saya takut kepada Allah’, seorang yang bersedekah dengan rahasia sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seorang yang mengingat Allah dikala sendirian lalu mencucurkan air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Orang yang berukhuwah Islamiyyah akan mendapatkan cinta dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadits tentang mengunjungi saudaranya karena Allah.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ«.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Suatu hari ada seseorang yang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal di suatu desa. Maka Allah mengutus seorang Malaikat untuk menjumpainya di suatu tempat di tengah-tengah perjalanannya. Ketika orang itu sampai di tempat tersebut, Malaikat bertanya: Hendak kemana engkau? Ia menjawab: Aku hendak mengunjungi saudaraku yang berada di desa ini. Malaikat kembali bertanya: Apakah kamu ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya? Ia menjawab: Tidak, aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah. Lantas Malaikat itu berkata: Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dikirim kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu seperti engkau mencintai saudaramu. (HR. Muslim)

Dari Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla:
حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ ، وَالْمُتَحَابُّونَ فِي اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ .
“Cinta kasih-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku; cinta kasih-Ku wajib bagi orang-orang yang saling menasehati karena Aku; cinta kasih-Ku wajib bagi orang-orang yang bersilaturrahim karena Aku. Dan orang-orang yang saling mencintai karena Aku berada di atras mimbar-mimbar dari cahaya di bawah naungan ‘Arsy pada hari dimana tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Ku.” (HR Ahmad, no: 21052)

4. Orang-orang yang menjalin ukhuwah Islamiyyah akan mendapat kebahagiaan di akhirat dengan Surga.

Menjenguk atau mengunjungi saudaranya karena Allah, berarti telah menyiapkan tempat tinggal di Surga.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِى اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya (karena Allah), maka akan ada yang memanggilnya, bahwa engkau telah berbuat baik dan perjalananmu juga baik serta engkau telah menyiapkan suatu tempat tinggal di dalam Surga." (HR. At-Tirmidzi no.2008, dishohihkan oleh Albani)

Saudara yang shalih akan menjadi syafaat di akhirat kelak sehingga selamat dari neraka dan masuk Surga. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon, ‘Wahai Rabb kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.…” (HR. Muslim).

Berkaitan dengan hadits ini, imam Hasan Al Bashri rahimahullah berpesan:
”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menasehatkan kepada teman-temannya:
“Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إن حول العرشِ مَنابِرَ من نورٍ، عليها قومٌ لِبَاسُهم نورٌ، ووجوهُهم نورٌ، ليسوا بأنبياءَ ولا شهداءَ، يَغبِطُهم النبيُّونَ والشهداءُ. فقالوا: انعَتْهم لنا يا رسول الله. قال: هم المتحابُّون في الله، والمتآخون في الله، والمُتزاوِرُون في الله .
“Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Hadis yang ditakhrij Al-Hafiz Al-Iraqi, ia mengatakan, para perawinya tsiqat)

5. Mereka yang merajut Ukhuwah Islamiyyah akan meraih derajat iman yang sangat tinggi.
Rasulullah pernah ditanya tentang derajat iman yang paling tinggi, beliau bersabda:
أَنْ تُحِبَّ لِلهِ ، وَتُبْغِضَ لِلهِ ، وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِي ذِكْرِ اللهِ . قَالَ : وَمَاذَا يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : أَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ ، وَتَكْرَهَ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ .
“…Hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah…” ...Kemudian Rasul ditanya lagi, “Selain itu apa wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci dirimu sendiri.” (HR. Al-Munziri)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ فِيْ اللهِ وَأَبْغَضَ فِيْ اللهِ وَأَعْطَى اللهِ وَمَنَعَ اللهِ فَقَدْ اسْتَكْمِلَ الإِيْمَانَ
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِيْ اللهِ وَالْبُغْضُ فِيْ اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena-Nya pula.” (HR. Ahmad)

6. Merajut ukhwah Islamiyyah membuahkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika dua orang bersaudara (seiman) saling berjumpa dan berjabatan tangan, maka dosa-dosanya akan diampuni sebelum mereka berpisah.

Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud no. 5212, Ibnu Majah no. 3703, Tirmidzi no. 2727. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إذا التقى المسلمان فتصافحا ، غابت ذنوبهم من بين أيديهما كما تَسَاقَطُ عن الشجرة .
“Jika dua orang Muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.” (Hadis yang ditakhrij oleh Al-Imam Al-Iraqi, sanadnya dha’if)

Alfons Masuk Islam Karena Mendapati Nama Nabi Muhammad Dalam Kitab Nasrani

September 11, 2017 Add Comment


 
Berikut ini kisah tentang masuk Islamnya bapak Alfons Salomonz di hadapan Tim Muallaf Center Masjid Darussalam Kota Wisata, Cibubur:

Bismillah..
Kebenaran Alquran telah menjadi petunjuk dari Allah dan wasilah hidayah bagi jutaan orang memeluk Islam..

Kisah wasilah hidayah ini agak panjang, semoga bermanfaat bagi kita semua..

Alfons Salomonz seorang ahli IT Internasional (mantan Nasrani) warga negara Inggris kelahiran Jakarta ini dalam dialog bersama team kami telah membuktikan bahwa nama Nabi MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم terdapat dalam kitab mereka sendiri.

Allah telah memberitahukan kepada kita bahwa sebenarnya kaum Yahudi dan Nasrani telah mengetahui kedatangan Nabi terakhir ini صلى الله عليه وسلم  jauh-jauh hari karena itu juga tertulis jelas di dalam kitab suci mereka sendiri.

Dan mereka mengenal sosok Nabi terakhir ini صلى الله عليه وسلم  seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, bahkan lebih mengenalnya lagi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri di dalam Al-Qur'an berfirman:
 الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Alkitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah 146)

Sedikit dari golongan Yahudi dan Nasrani yang dengan jujur mengakui kebenaran dan beriman kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم .

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ ۘ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)”. (QS. Al An'am 20)

Dalam pembuktian kalamullah di atas kami menggunakan teks asli Song of Solomon berbahasa Ibrani, dimana versi Indonesianya seharusnya diterjemahkan lagu Salomo, entah mengapa justru di terjemahkan dengan arti Kidung Agung 5:16

Solomon 5:16 yang teks aslinya berbahasa Ibrani (Hebrew) tertulis sebagai berikut:
חכו ממתקים וכלו  מחמד  ים זה דודי זה רעי בנות ירושלם
dibaca: "Hikko Mamtakkim Dhekhullo Muhammadim, Zeedodi Vezer'i Benoq Yerussalam"
artinya: "Teramat manis tutur katanya; Ya, dia adalah MUHAMMAD. Dia adalah KEKASIHKU, dan dia adalah temanku, wahai putera-puteri Yerusalem."

Untuk membuktikan apakah kata " מחמד "  adalah benar artinya Muhammad:

silahkan cek secara online di situs yang jadi acuan referensi terjemahan dunia yakni: www.freetranslation.com  

Pilih bahasa Hebrew dan terjemahkan ke bahasa Inggris (English), lalu masukkan kata " מחמד ", hasilnya silahkan buktikan sendiri!

Inilah bukti bahwa tangan-tangan kotor baik dari kalangan Yahudi dan Nasrani telah merubah-rubah isi kitab-kitab mereka (Zabur dan Injil) dengan cara mengganti, menambah dan menguranginya. Termasuk ayat dalam Song of Solomon surat 5 ayat 16 ini, bahkan kata "Muhammad" mereka hapus dan diganti dengan sebutan lain, yakni:

Nama nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam Injil versi Inggris

"His voice and speech are exceedingly sweet; yes, he is ALTOGETHER LOVELY. This is my beloved, and this is my friend, O daughters of Jerusalem."

Atau

Nama Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam Injil King James Version

(English Translation)
"His mouth is most sweet: yea, he is ALTOGETHER LOVELY. He is my beloved, and he is my friend, O daughters of Jerusalem."

Atau

Nama Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam Injil bahasa Indonesia

"Kata-katanya manis semata-mata, SEGALA SESUATU PADANYA MENARIK. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai putera-puteri Yerusalem."

SEHARUSNYA TERTULIS:

"His voice and speech are exceedingly sweet; yes, he is MUHAMMAD. This is my beloved, and this is my friend, O daughters of Jerusalem."

Atau

"His mouth is most sweet: yea, he is Muhammad. He is my beloved, and he is my friend, O daughters of Jerusalem."

Atau

"Kata-katanya manis semata-mata, dia adalah Muhammad صلى الله عليه وسلم. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai putera-puteri Yerusalem."

Bukti-bukti lainnya:

Mari kita simak pengakuan para uskup dan raja di kalangan mereka yang mengakui akan kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

1. Kaisar Romawi Hiraklius

Hiraklius ketika bertanya tentang Muhammad صلى الله عليه وسلم kepada Abu Sufyan yang ketika itu beliau belum masuk Islam, berikut pertanyaan dan jawaban antara Hiraklius dan Abu Sufyan

Pertanyaan pertama, “Bagaimanakah garis nasabnya di kalanganmu?”

Aku jawab, “Dia turunan bangsawan di kalangan kami.”

Hiraklius bertanya lagi, “Pernahkah orang lain sebelumnya mengatakan apa yang dikatakannya?”

Aku menjawab, “Tidak”

“Adakah di antara nenek moyangnya yang menjadi raja?”

“Tidak,”

“Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang dhuafa?”

“Hanya terdiri dari orang-orang dhuafa,”

“Apakah pengkutnya semakin bertambah atau berkurang?”

“Bahkan selalu bertambah”

“Adakah di antara mereka yang murtad karena benci kepada agama yang dipeluknya?”

“Tidak”

“Pernahkah dia melanggar janji?”

“Tidak dan sekarang kami sedang dalam perjanjian damai dengan dia, kami tidak tahu apa yang diperbuatnya dengan perjanjian itu”

“Pernah kamu berperang dengannya?”

“Pernah”

“Bagaimana peperanganmu itu?”

“Kami kalah dan menang silih berganti. Dikalahkannya kami dan kami kalahkan pula dia”

“Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?”

“Dia menyuruh kami menyembah Allah semata dan jangan mempersekutukan-Nya. Tinggalkan apa yang diajarkan nenek moyang kami! Disuruhnya kami menegakkan shalat, berlaku jujur, sopan (teguh hati) dan mempererat persaudaraan.”

Setelah mendengar jawaban dari Abu Sufyan Hiraklius berucap:

Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang untuk menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya akan kucuci kedua telapak kakinya.”

Dari kisah ini kita ketahui bahwa mereka tahu betul hingga nasab dan ciri-ciri Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

2. Raja Najasyi

Ketika para sahabat berhijrah ke negeri Habasyah, kemudian para Pembesar Quraisy hendak menjemput para sahabat untuk mereka kembali ke Madinah, maka Raja Najasyi bertanya kepada Ja’far bin Abi Tholib tentang apa yang diajarkan dalam agama islam, maka Ja’farpun membacakan surat Maryam yang menyebutkan kisah Maryam dan Nabi Isa. Seketika itu pula raja Najasyi menangis mendengar kisah tersebut

Najasyi berkata kepada utusan Quraisy tersebut: “Apa yang me­re­­ka bacakan kepada kami dan apa yang dibawa oleh Isa عليه السلام berasal dari sumber yang sama. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan me­reka sama sekali kepada kalian selama aku masih hidup.

Karena dia tahu, apa yang dipegang oleh para sahabat adalah kebenaran

3. Kisah perjalanan Salman Al Farisy mencari Islam

Ketika sahabat Salman Al Farisy mendatangi uskup di Amuriyah kemudian Salman meminta Wasiat kepada siapa lagi yang akan dia tuju maka uskup inipun memberikan wasiat kepada Salman Al Farisy

Uskup itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’

Lihat bagaimana mereka mengenal Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم  sampai pada fisiknyapun mereka mengetahui.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى
“Maka jika datang kepadamu (wahai manusia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya)”. (QS Thaahaa 123)

Barakallahu fiikum..

اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِم لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ الله أكبرالله أكبرالله أكبر

Oleh: Hanny Kristianto


Dokumentasi Bp. Alfons Salomonz Masuk Islam: