Loading...
Tampilkan postingan dengan label RIYADHUSH SHOLIHIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RIYADHUSH SHOLIHIN. Tampilkan semua postingan

RIYADHUSHSHALIHIN BAB KE 14 SEDERHANA DALAM BERIBADAH

November 08, 2017 Add Comment




BAB KE 14
SEDERHANA DALAM BERIBADAH

Materi ini disusun oleh Ust. Anas Abdillah dan telah disampaikan dalam Kajian Umum HASMI di Masjid Al Bana, Klapanuggal, Bogor.
Yang dimaksud sederhana dalam beribadah adalah bersikap pertengahan dalam beribadah dan tidak berlebih-lebihan atau tidak memberatkan diri dalam beribadah.

Pada bab ini, Imam An-Nawawi rahimahullah menukil beberapa ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam. Berikut pembahasan lengkapnya:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
طه (١)مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (٢)
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS. Thaaha: 1-2)

Tafsir Ibnu Katsir:
Jubair mengatakan dari Adh-Dhahhak, ‘Begitu Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasul-Nya, maka beliau dan para shahabat pun segera mengamalkannya. Tapi orang-orang musyrik dari Quraisy mengatakan, al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada Muhammad kecuali agar dia menjadi susah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan ayat di atas.

Mujahid mengatakan, “Ayat ini seperti firman-Nya,
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
“...karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran..” (QS. Al-Muzammil: 20). Saat itu para shahabat mengaitkan tali (menggantungkan tulisan yang berisi ayat-ayat al-Qur’an) dalam shalat.

Qatadah mengatakan, “Tidak, demi Allah, Dia tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang menyusahkan, tetapi menjadikannya sebagai rahmat, cahaya dan penunjuk ke Surga.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Tafsir Ibnu Katsir:
Maksudnya, keringanan (rukhshah) yang diberikan Allah kepada kalian untuk berbuka dalam keadaan sakit dan dalam perjalanan, namun Dia tetap mewajibkan puasa bagi orang yang berada di tempat tinggalnya lagi sehat, merupakan kemudahan dan rahmat-Nya bagi kalian.

Berbuka puasa ketika dalam perjalanan itu lebih utama. Alasannya sebagai pengamalan rukhshah (keringanan) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berdasarkan hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya tentang puasa dalam perjalanan, maka beliau pun menjawab:
مَنْ أَفْطَرَ فَحَسَنٌ، وَمَنْ صَامَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ.
“Barangsiapa berbuka, maka ia telah berbuat baik. Dan barangsiapa tetap berpuasa, maka tidak ada dosa baginya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
عَلَيْكُمْ بِرُخْصَةِ اللهِ الَّتِي رَخَّصَ لَكُمْ
“Pergunakanlah rukhshah (keringanan) yang diberikan Allah kepada kalian.” (HR. Muslim)

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa antara berbuka dan berpuasa keduanya sama saja. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Hamza bin ‘Amr al-Aslami pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh aku sering berpuasa, apakah aku boleh berpuasa dalam perjalanan?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun menjawab:
إِنْ شِئْتَ فَصُمْ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ
“Jika engkau mau berpuasalah, dan jika engkau mau berbukalah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan ada pula yang berpendapat bahwa apabila ia merasa berat untuk melaksanakan puasa, maka berbuka baginya lebih utama. Hal ini berdasarkan hadits Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah menjumpai seorang laki-laki yang dipayungi, maka beliau bertanya: “Ada apa dengannya?” Orang-orang menjawab: “Dia sedang berpuasa.” Lalu beliau bersabda:
لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِيْ السَّفَرِ
“Berpuasa ketika dalam perjalanan bukan termasuk kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun jika ia membenci sunnah (dalam hal ini rukhshah untuk berbuka) dan berpendapat bahwa berbuka adalah makruh, maka ia wajib berbuka dan berpuasa menjadi haram baginya.

Hadits Ke Seratus Tiga Puluh Enam
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ  دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأةٌ قَالَ‏:‏ مَنْ هَذِهِ‏؟‏ قَالَتْ‏:‏ هَذِهِ فُلَانَةُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا قَالَ‏:‏ ‏ "مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيْقُونَ، فَوَاللهِ لَا يَمَلُّ اللهُ حَتَّى تَمَلُّوا‏"‏ وَكَانَ أَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَيهِ مَا دَاوَمَ صَاحِبَهُ عَلَيهِ‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏
“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam masuk ke rumah ‘Aisyah. Waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau bertanya, “Siapakah dia?” ‘Aisyah menjawab, “Ini adalah Fulanah yang terkenal shalatnya.” Nabi bersabda, “Wahai Fulanah, beramallah sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak akan jemu menerima amalmu sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah, yaitu yang dikerjakan secara terus menerus.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Faidah hadits:
1. Jika seseorang melihat di rumahnya ada orang baru, hendaklah dia bertanya, “Siapa dia?”. Boleh jadi orang yang masuk ke rumah kita adalah orang yang tidak disukai keberadaannya.
2. Seyogyanya manusia tidak terlalu membebani dirinya dengan ibadah dan terlalu banyak beramal.
3. Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa manusia harus mengerjakan ibadah dengan secara menengah, artinya tidak terlalu berlebih-lebihan dan tidak terlalu sedikit sehingga dia bisa melaksanakannya secara terus-menerus.
 
Hadits Ke Seratus Tiga Puluh Tujuh
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال‏:‏ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطِ إِلَى بُيُوْتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا وَقَالُوا‏:‏ أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّمَ  قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ‏.‏ قَالَ أَحَدُهُمْ‏:‏ أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ الآَخَرَ‏:‏ وَأَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ الآَخَرَ‏:‏ وَأَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّمَ  إِلَيهِمْ فَقَالَ‏:‏ ‏ "‏أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا‏؟‏‏!‏ أَمَا وَاللهِ إني لَأَخْشَاكُمُ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Tiga orang datang ke rumah istri Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mempertanyakan tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Setelah diberitahu, mereka menganggap seakan-akan amal ibadah Nabi itu hanya sedikit dan mereka berkata, ‘Dimanakah tempat kami dibanding Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, padahal beliau telah diampuni semua dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?’ Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Saya selamanya akan shalat sepanjang malam’. Yang lain berkata, ‘Saya selamanya akan berpuasa’. Yang lain berkata, ‘Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya’. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam datang dan bersabda kepada mereka, ‘Kalian tadi yang berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur malam, aku juga menikahi perempuan. (Itulah sunnah-sunnahku) siapa saja yang benci terhadap sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat:
Dalam hal ini terdapat dalil bahwa manusia harus bersifat menengah dalam beribadah, bahkan menengah dalam segala perkara, sebab jika ia sedikit ibadah akan kehilangan banyak hal dan jika dia berlebih-lebihan dalam beribadah, dia akan merasa keberatan, melemah dan bosan. Maka dari itu, dia harus bersikap menengah dalam segala amalnya.

Hadits Ke Seratus Tiga Puluh Delapan
وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّمَ  قَالَ‏:‏ ‏"‏هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ‏"‏ قَالَهَا ثَلَاثًا (‏رواه مسلم‏)
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebih-lebihan.’ Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat:
Binasa adalah kebalikan dari eksis, yaitu bahwa mereka akan hancur dan menyesal.
Al-Mutanaththi’uun berarti orang-orang yang berlebih-lebihan dalam urusan mereka, baik dalam urusan agama maupun dunia.


Hadits Ke Seratus Tiga Puluh Sembilan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قال‏:‏ ‏ "‏إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينُ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah dan siapa saja yang mempersulit agama, ia akan kalah. Oleh karena itu, kerjakan dengan tepat, dekatkan diri kalian (kepada Allah), dan bersuka hatilah kalian serta minta tolonglah kepada Allah di waktu pagi, sore serta sedikit waktu malam (untuk mendekatkan diri).” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ ‏:‏ ‏ ‏سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا، وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ، الْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا‏ ‏‏.‏
Dalam riwayat lain dikatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sedang-sedanglah, dekatanlah dirimu dan pergunakan waktu pagi dan sore serta sedikit dari waktu malam. Bersahajalah, niscaya kalian akan sampai pada tujuan.” (Diriwayatkan Bukhari)

Penjelasan singkat:
Agama yang Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam diutus di dalamnya dan agama yang karenanya manusia tunduk dan menyembah Tuhan mereka adalah agama yang mudah, seperti yang difirmankan Allah,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ketika Allah menjelaskan perintah-Nya agar berwudhu, mandi dari jinabat, dan bertayamum, Dia berfirman:
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ
“...Allah tidak hendak menyulitkan kamu..” (QS. Al Maidah: 6)
Dalam perintah jihad pun Allah tidak hendak menjadikan agama sebagai suatu kesempitan. Allah berfirman:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan..” (QS. Al-Hajj: 78)

Jika kita memperhatikan ibadah kaum Muslimin sehari-hari, maka kita akan dapati ibadah-ibadah tersebut sangat mudah dan tidak menyulitkan. Misalkan shalat (tanpa biaya, tanpa menguras tenaga, waktunya singkat, hanya lima kali dalam sehari) , zakat (hanya harta tertentu, telah mencapai nisob dan haul, hanya 2, 5 %), puasa (hanya sebulan dalam setahun), haji (wajib hanya untuk yang mampu).

Anjuran berdzikir di waktu pagi dan sore:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (٤١) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا (٤٢)
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
لَأَنْ أَقْعَدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللهَ تَعَللَى مِنْ صَلَاةِ الغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيْلِ، وَ لَأَنْ أَقْعَدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللهَ تَعَللَى مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ،  أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً
“Jika saya berdzikir kepada Allah bersama satu kaum, mulai shalat shubuh sampai terbit matahari adalah lebih saya sukai daripada memerdekakan empat orang dari anak Isma’il. Dan jika saya duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat ashar sampai tenggelam matahari adalah lebih saya sukai daripada memerdekakan empat orang (dari keterunan Ismail).” (HR. Abu Dawud, no 3667)

Hadits Ke Seratus Empat Puluh
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ‏:‏ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا حَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ فَقَالَ‏:‏ ‏"‏مَا هَذَا الْحَبْلُ؟‏"‏ قَالُوا ‏:‏ هَذَا حَبْلٌ لِزَيْنَبِ، فَإِذَا فَتَرَتْ تَعَلِّقَتْ بِهِ‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ‏"‏ حُلُّوهُ، لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ، فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَرْقُدْ‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam masuk ke dalam masjid dan menemukan tali yang terpasang memanjang antara dua tiang, beliau lantas bertanya, ‘Tali apakah ini?’ Para shahabat menjawab, ‘Zainab yang memasangnya. Jika dia mengantuk, maka dia berpegangan dengannya’. Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Lepaskan tali itu, hendaklah kalian shalat dalam keadaan segar, jika merasa capek, tidurlah’.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadits Ke Seratus Empat Puluh Satu
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلى الله عليه وسلم قَالَ‏:‏ ‏ "‏ إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي، فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبْ عَنْهُ النَّومَ، فَإِنَّ أَحَدُكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَا يَدْرِي لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏
Dari ‘Aisyah radhiyallah ‘anha bahwasanya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk dalam shalatnya,hendaklah dia tidur sehingga hilang rasa kantuknya. Dikarenakan jika seseorang di antara kalian shalat, sedangkan dia mengantuk, maka dia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampunan, tetapi malah mencela dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat:
Jika seseorang shalat dalam keadaan ngantuk, maka akan sangat berpotensi keliru dalam bacaan dan gerakan shalatnya. Mungkin ia bermaksud untuk berdo’a memohon surga, malah justru berdo’a memonoh neraka. Ia bermaksud memohon husnul khatimah, malah memohon suul khatimah. Ia bermaksud memohon petunjuk hidayah, malah berdo’a memohon kesesatan.

Hadits Ke Seratus Empat Puluh Dua
وَعَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةِ رَضي الله عَنْهُمَا قَالَ‏:‏ ‏ "‏كُنْتُ أُصَلِّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتِ، فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
Dari Abu Abdillah Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Sering kali saya shalat bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, tetapi di dalam shalat dan khutbah beliau tidak terlalu lama dan tidak terlalu pendek.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat:
Kata al qashdu artinya, “tengah-tengah, tidak cepat dan tidak lama”.
Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:
إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ
“..Memanjangkan shalatnya dan memendekkan khutbahnya merupakan tanda kepandaian/kefakihan seseorang..” (HR. Muslim)

Hadits Ke Seratus Empat Puluh Tiga
وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ‏:‏ آخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبِى الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذَّلَةً فَقَالَ‏:‏ مَا شَأْنُكِ قَالَتْ‏:‏ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا، فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا، فَقَالَ لَهُ‏:‏ كُلْ فَإِنِّى صَائِمٌ، قَالَ‏:‏ مَا أَنَا بِآَكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ، فَأَكَلَ، فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ فَقَالَ لَهُ‏:‏ نَمْ، فَنَامَ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ لَهُ ‏:‏ نَمْ، فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ‏:‏ قُمِ اْلآنَ‏:‏ فَصَلَّيَا جَمِيْعًا، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ‏:‏ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقَّ حَقَّهُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ "‏صَدَقَ سَلْمَانُ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏
Dari Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mempersaudarakan Salman dan Abu Darda. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda, ia mendapatkan Ummu Darda (istri Abu Darda) sedang mengenakan pakaian kerja, lantas Salman bertanya, ‘Mengapa kamu tidak berhias?’ Ummu Darda menjawab, ‘Abu Darda sudah tidak lagi memperhatikan kepentingan duniawi’. Kemudian, Abu Darda’ datang dan dihidangkanlah makanan. Dia berkata kepada Salman, ‘Silahkan makan, saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau makan.’ Maka Abu Darda pun makan. Di malam harinya Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam, Salman berkata kepadanya, ‘Tidurlah!’ Kemudian di akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Kita shalat bersama-sama’. Dan Salman berkata pula kepadanya, ‘Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu ada juga hak, maka penuhilah semuanya.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam datang dan Salman menceritakan apa yang baru saja terjadi, maka beliau memutuskan, ‘Salman benar’.” (Diriwayatkan Bukhari)

Hadits Ke Seratus Empat Puluh Empat
وَعَنْ أَبِي رِبْعِيٍّ حَنْظَلَةَ بْنِ الرَّبِيْعِ اْلأُسَيِّدِيِّ الْكَاتِبِ أَحَدِ كُتَّابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ‏:‏ لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ‏:‏ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ؟‏ قُلْتُ‏:‏ نَافَقَ حَنْظَلَةُ‏!‏‏ قَالَ‏:‏ سُبْحَانَ اللهِ مَا تَقُولُ‏؟!‏‏ قُلْتُ‏:‏ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّي كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنِ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا اْلأَزْوَاجَ وَاْلأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِيْنَ كَثِيْرًا‏.‏ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ‏:‏ فَوَاللهِ لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏ فَقُلْتُ‏:‏ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللهِ!‏ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏:‏ ‏"‏وَمَا ذَاكَ‏؟‏‏"‏ قُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولُ اللهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّي كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنِ ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِيْنَا كَثِيْرًا‏.‏ فَقَالَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ ‏"‏وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُونُوْنَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةَ سَاعَةً وَسَاعَةَ‏"‏ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
Dari Abu Rib’i Hanzhalah bin Rabi’ Al-Usayydiy, salah seorang sekretaris Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, ia berkata, ‘Saya bertemu dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, kemudian ia bertanya, ‘Bagaimanakah keadaanmu hai Hanzhalah?’ Saya menjawab, ‘Hanzahalah, ‘Hanzhalah kini telah munafik.’ Abu Bakar terperanjat seraya berkata, ‘Subhanallah,apa yang kamu katakan?’ Saya menjelaskan, ‘Kalau kami di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian beliau menceritakan tentang surga dan neraka, maka seakan-akan kami melihat dengan mata kepala, tetapi bila kami pergi meninggalkan beliau dan bergaul dengan istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai urusan, maka kami sering lupa.’ Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah, kami juga demikian.’ Kemudian, saya dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, lalu saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah muafik’. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, apabila kami berada di hadapanmu, kemudian engkau menceritakan tentang neraka dan surga, maka seolah-olah kami melihat dengan mata kepala, namun bila kami keluar dan bergaul bersama istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai macam persoalan, maka kami sering lupa’. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Demi Zat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kamu tetap sebagaimana keadaanmu di hadapanku dan mengingat-ingatnya, niscaya para malaikat akan menjabat tanganmu di tempat tidurmu dan di jalanan. Tetapi hai Hanzhalah, sesaat dan sesaat.’ Beliau mengulanginya sampai tiga kali.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat:
Di akhir hadits ini Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Tetapi hai Hanzhalah, sesaat dan sesaat’. Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Artinya sesaat untuk Allah, sesaat untuk kelarga dan anak, dan sesaat untuk diri sendiri sehingga manusia juga memberikan hak kepada dirinya untuk beristirahat dan memberi hak kepada orang yang berhak.

Hadits Ke Seratus Empat Puluh Lima
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ‏:‏ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَائِمٍ، فَسَأَلَ عَنْهُ فَقَالُوا‏:‏ أَبُو إِسْرَائِيْلَ نَذَرَ أَنْ يَقُوْمَ فِي الشَّمْسِ وَلَا يَقْعُدَ، وَلَا يَسْتَظِلَّ وَلَا يَتَكَلَّمَ، وَيَصُوْمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏:‏ ‏ "‏مُرُوْهُ فَلْيَتَكَلَّمَ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Tatkala Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berkhutbah, tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri, kemudian beliau menanyakannya. Para shahabat menjawab, ‘Dia adalah Abu Israil, ia bernadzar akan berdiri pada waktu panas, tidak akan duduk dan tidak akan berteduh, juga tidak akan berbicara, sedangkan dia sedang berpuasa.’ Kemudian, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Perintahkanlah dia supaya berbicara, berteduh, duduk, dan perintahkanlah dia supaya menyempurnakan puasanya’.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Penjelasan singkat:
Nadzar orang itu telah tercampur antara yang dicintai oleh Allah dan sesuatu yang tidak dicintai-Nya. Sesuatu yang dicintai Allah adalah puasa karena puasa adalah ibadah. Sedangkan nadzarnya untuk berdiri di bawah terik matahari tanpa pelindung dan tidak akan berbicara adalah nadzar yang tidak disukai Allah. Oleh karena itu Nabi memerintahkan kepada orang itu agar meninggalkan nadzarnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ
“Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)
Hendaklah diketahui bahwa hukum asal nadzar adalah makruh. Bahkan sebagian orang berpendapat haram , dan tidak boleh bernadzar, karena jika seseorang bernadzar berarti dia telah membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak dibebankan Allah kepadanya.

Disusun oleh Anas Abdillah, S.Ud di Bogor

BAB 95 DISUNNAHKAN MEMBERI KABAR GEMBIRA DAN MEMBERI UCAPAN SELAMAT

April 30, 2017 Add Comment

Pembahasan Kitab Riyadhushshalihin kali ini adalah menganai “Disunnahkan Memberikan Kabar Gembira dan Memberi Ucapan Selamat Yang Baik”.

Seperti biasa pengarang kitab ini, yaitu Imam An-Nawawi rahimahullah menukil beberapa ayat Al-Qur’an sebelum menjelaskan hadits-hadits yang berkaitan dengan tema.

Berikut beberapa ayat al Qur’an terkait dengan tema ini:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ ٱجۡتَنَبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ أَن يَعۡبُدُوهَا وَأَنَابُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰۚ فَبَشِّرۡ عِبَادِ ١٧ ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٨
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az-Zumar: 17-18)

يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَرِضۡوَٰنٖ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ٢١
“Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal.” (QS. At-Taubah: 21)

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Fussilat: 30)

 فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ١٠١
“Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 101)

وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ إِبۡرَٰهِيمَ بِٱلۡبُشۡرَىٰ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ٦٩
“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat". Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.” (QS. Hud: 69)

وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ فَضَحِكَتۡ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ٧١
“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya´qub.” (QS. Hud: 71)

فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٣٩
“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".” (QS. Ali Imran: 39)

إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ٤٥
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 45)

Hadist Pertama
عن أبي إِبراهيمَ وَيُقَالُ أبو محمد ويقال أَبو مُعَاوِيةَ عبدِ اللَّه بن أبي أَوْفي رضي اللَّه عنه أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بَشَّرَ خَدِيجَةَ ، رضي اللَّه عنها ، بِبيْتٍ في الجنَّةِ مِنْ قَصَبٍ ، لاصَخبَ فِيه ولا نَصب . متفقٌ عليه .
“Dari Abu Ibrahim, dikatakan pula bahwa namanya ialah Abu Muhammad dan ada yang mengatakan Abu Mu'awiyah yaitu Abdullah bin Aufa radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah memberikan berita gembira kepada Khadijah -istrinya- dengan memperoleh sebuah rumah di dalam syurga yang terbuat dari mutiara berlobang. Di situ tidak ada teriakan apapun dan tidak pula ada kelelahan.” (Muttafaq 'alaih)

Faidah Hadits
1. Penjelasan mengenai keutamaan Khadiah binti Khuwailid, dia termsuk orang pertama yang masuk Islam, yang telah membantu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam menghadapi berbagai kesulitan dengan mengerahkan seluruh harta bendanya yang sangat berharga.
2. Dalil yang menunjukan keagungan Khadijah dalam pandangan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
3. Orang-orang yang diberi kabar gembira dengan masuk surga lebih dari sepuluh orang. Kalaupun disebut, maka yang dimaksudkan adalah mereka yang disebutkan di dalam satu hadits.
4. Di dalam hadits tersebut juga terdapat dalil yang menunjukan kesetiaan, menjaga kesucian cinta, serta menjaga kehormatan sahabat dan teman hidup baik selama masih hidup maupun setelah mati.
5. Alloh yang maha mulia lagi maha perkasa memberi kabar gembira kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya mengenai apa yamg telah disediakan baginya kelak di akhirat setelah kematianya.

Hadits kedua
وعن أبي موسى الأشعريِّ رضي اللَّه عنه ، أَنَّهُ تَوضَّأَ في بيتهِ ، ثُمَّ خَرَجَ فقال: لألْزَمَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ولأكُونَنَّ معَهُ يوْمِي هذا ، فجاءَ المَسْجِدَ ، فَسَأَلَ عَن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقَالُوا : وَجَّهَ ههُنَا ، قال : فَخَرَجْتُ عَلى أَثَرِهِ أَسأَلُ عنْهُ ، حتَّى دَخَلَ بئْرَ أريسٍ فجلَسْتُ عِنْدَ الْباب حتَّى قَضَى رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حاجتَهُ وتَوضَّأَ، فقُمْتُ إِلَيْهِ ، فإذا هُو قَدْ جلَس على بئر أَريس ، وتَوسطَ قفَّهَا ، وكَشَفَ عنْ ساقَيْهِ ودلاهمَا في البِئِر ، فَسلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ انْصَرفتْ . فجَلسْتُ عِند الباب فَقُلت : لأكُونَنَّ بَوَّاب رسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم اليوْم . فَجاءَ أَبُو بَكْرٍ رضي اللَّهُ عنه فدفَع الباب فقُلْتُ : منْ هَذَا ؟ فَقَالَ : أَبُو بكرٍ ، فَقلْت : على رِسْلِك ، ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُلتُ : يا رسُول اللَّه هذَا أَبُو بَكْرٍ يسْتَأْذِن ، فَقال: « ائْذَنْ لَه وبشِّرْه بالجنَّةِ » فَأَقْبَلْتُ حتَّى قُلت لأبي بكرٍ : ادْخُلْ ورسُولُ اللَّه يُبشِّرُكَ بِالجنةِ ، فدخل أَبُو بَكْرٍ حتَّى جلَس عنْ يمِينِ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم معَهُ في القُفِّ ، ودَلَّى رِجْلَيْهِ في البئِرِ كما صنَعَ رَسُولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وكَشَف عنْ ساقيْهِ ، ثُمَّ رَجَعْتُ وجلسْتُ ، وقد ترَكتُ أَخي يتوضأُ ويلْحقُني ، فقُلْتُ : إنْ يُرِدِ اللَّه بِفُلانٍ يُريدُ أَخَاهُ خَيْراً يأْتِ بِهِ . فَإِذا إِنْسانٌ يحرِّكُ الباب ، فقُلت : منْ هَذَا ؟ فَقال : عُمَرُ بنُ الخطَّابِ : فقُلْتُ: على رِسْلِك ، ثمَّ جئْتُ إلى رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَسلَّمْتُ عليْهِ وقُلْتُ : هذَا عُمرُ يَسْتَأْذِنُ ؟ فَقَالَ: « ائْذنْ لَهُ وبشِّرْهُ بِالجَنَّةِ » فَجِئْتُ عمر ، فَقُلْتُ : أَذِنَ أُدخلْ وَيبُشِّرُكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِالجَنَّةِ، فَدَخَل فجَلَسَ مَعَ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في القُفِّ عَنْ يسارِهِ ودَلَّى رِجْلَيْهِ في البِئْر ، ثُمَّ رجعْتُ فَجلَسْتُ فَقُلْت : إن يُرِدِ اللَّه بِفلانٍ خَيْراً يعْني أَخَاهُ يأْت بِهِ . فجاء إنْسانٌ فحركَ الباب فقُلْتُ : مَنْ هذَا ؟ فقَال : عُثْمانُ بنُ عفانَ . فَقلْتُ : عَلى رسْلِكَ ، وجئْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأْخْبرْتُه فَقَالَ : « ائْذَن لَهُ وبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ مَعَ بَلْوى تُصيبُهُ » فَجئْتُ فَقُلتُ : ادْخلْ وَيُبشِّرُكَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِالجَنَّةِ مَعَ بَلْوَى تُصيبُكَ ، فَدَخَل فَوَجَد القُفَّ قَدْ مُلِئَ ، فَجَلَس وُجاهَهُمْ مِنَ الشَّقِّ الآخِرِ . قَالَ سَعِيدُ بنُ المُسَيَّبِ : فَأَوَّلْتُها قُبُورهمْ.
 متفقٌ عليه .
“Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu anhu bahwa dirinya mengambil wudhu di rumahnya lalu pergi keluar dan berkata, “Tentu aku akan selalu dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan aku akan selalu bersama beliau hari ini’. Lalu dia datang ke masjid. Dia bertanya tentang dimana keberadaan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Orang-orang menjawab, ‘Beliau menuju ke sebelah sini’.

Aku keluar menelusuri jalur bekas beliau berlalu untuk mencari beliau. Sehingga beliau masuk ke Sumur Aris. Aku duduk di pintu hingga Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam usai memenuhi hajatnya dan mengambil wudhu. Aku berdiri menju beliau. Ternyata beliau dudu di Sumur Aris. Beliau di bagian tengah bangunan menglilingi sumur itu dengan membuka kedua betis beliau dan menjulurkan keduanya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau, lalu aku kembali ke tempat semula. Aku duduk di bagian pintu, lalu kukatakan, ‘Sekarang ini aku pasti harus menjadi penjaga pintu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam’.

Datanglah Abu Bakar menekan pintu sehingga kukatakan kepadanya, ‘Siapa ini?’ Ia menjawab, ‘Abu Bakar’. Kukatakan, ‘Bersabarlah sebentar’. Lalu aku pergi dan kukatakan, ‘Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar meminta izin’. Maka beliau bersabda, ‘Beri dia izin dan sampaikan berita gembira bahwa dia akan masuk surga’.

Aku menghampiri dan berkata kepada Abu Bakar, ‘Masuklah dan Rasulullah memberimu berita gembira bahwa engkau akan masuk surga’. Masuklah Abu Bakar hingga duduk di sebelah kanan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersamanya di atas bangunan mengelilingi sumur itu. Dia menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dia juga membuka kedua betisnya. Aku pun kembali dan duduk. Aku tinggalkan saudaraku berwudhu lalu bertemu denganku lagi. Maka aku katakan, ‘Jika Allah menghendaki si Fulan –yang dimaksud adalah saudaranya itu- mendapat kebaikan maka Dia akan membawa kebaikan itu kepadanya’.

Tiba-tiba ada orang yang menggerakkan pintu. Maka kukatakan, ‘Siapa itu?’ Ia menjawab, ‘Umar bin Al-Khaththab’. Aku mengatakan, ‘Bersabarlah sebentar’. Lalu kau pergi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, kuucapkan salam kepada beliau, lalu kukatakan, ‘Ini Umar meminta izin’. Maka beliau bersabda, ‘Beri dia izin dan sampaikan berita gembira bahwa dia akan masuk surga’. Aku menghampiri dan berkata kepada Umar, ‘Masuklah dan Rasulullah memberimu berita gembira bahwa engkau akan masuk surga’.

Masuklah Umar hingga duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam di sebelah kiri beliau di atas bangunan mengelilingi sumur itu. Dia menjulurkan kedua kakinya ke dalam. Aku pun kembali dan duduk. Kukatakan, ‘Jika Allah menghendaki si Fulan –yang dimaksud adalah saudaranya itu- mendapatkan kebaikan, maka Dia akan membawa kebaikan itu kepadanya’.

Datanglah orang lain menggerakkan pintu. Maka kukatakan, ‘Siapa itu?’ Ia menjawab, ‘Utsman bin ‘Affan’. Kukatakan kepadanya, ‘Bersabarlah sebentar’. Lalu aku pergi mendatangi Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, kusampaikan berita kepada beliau, lalu beliau bersabda, ‘Beri dia izin dan sampaikan berita gembira bahwa dia akan masuk surga dengan sedikit musibah yang menimpanya’.

Aku menghampiri dan berkata kepadanya, ‘Masuklah dan Rasulullah memberimu berita gembira bahwa engkau akan masuk surga dengan sedikit musibah yang akan menimpamu’. Masuklah Utsman dan mendapati bangunan yang mengelilingi sumur itu telah penuh. Sehingga ia duduk di hadapan mereka dari sebelah sisi yang lain.

Said bin Al-Musayyab berkata, ‘Kutakwilkan tempat duduk mereka sebagaimana kubur mereka’.” (Muttafaq 'alaih)

Tambahan dalam suatu riwayat, “Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyuruhku untuk menjaga pintu. Di dalamnya: bahwa ketika Utsaman diberi berita gembira, ia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala lalau berucap, اللهُ الْمُسْتَعَانُ (Allah tempat meminta pertolongan).”

Faidah Hadits
1. Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak memiliki penjaga pintu yang pasti, dan beliau menyuruh Abu Musa menjaga pintu hanya untuk selama waktu beliau buang hajat dan berwudhu tetapi keinginan dari Abu Musa sendiri untuk melanjutkan penjagaan pintu tersebut.
Hadits di atas mencakup beberapa adab sopan santun meminta izin, di antaranya:
1). Harus meminta izin sebelum masuk rumah orang.
2). Permohonan izin itu harus disampaikan dengan cara dan tata krama yang baik.
3). Menyebutkan nama pada saat meminta izin.
4). Hendaklah orang yang meminta izin itu tidak masuk sehingga dia diizinkan masuk.
2. Orang yang diberi tugas tertentu tidak boleh melakukan sesuatu kecuali dengan seizin orang yang memberi tugas.
3. Penjelasan mengenai keutamaan Abu Bakr, Umar dan Utsman, yang mereka semuanya termasuk penghuni surga.
4. Hadits ahad yang shohih bisa menjadi hujjah dalam hal Aqidah dan hukum syari’at.
5. Hadits di atas merupakan salah satu dalil kenabian, dimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam  telah memberi tahu Utsman mengenai apa yang akan menimpanya, dan ternyata apa yang beliau sampaikan itu memang benar terjadi.
6. Mengenai musibah yang dimaksudkan, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengisyarakatkan kepada apa yang menimpa Utsman pada akhir kekhilafahanya. Dan telah banyak hadits-hadits shohih lagi jelas yang menerangkan mengenai hal tersebut.
7. Ucapan Sa’id Al Musayyab rohimahulloh, “maka aku menakwilkanya dengan kuburan mereka” mengisyaratkan adanya takwil dalam keadaan sadar, dan itulah yang disebut dengan firasat. Dan yang dimaksudkan adalah berkumpul kuburan kedua sahabatb itu dengan kuburan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan pemisahan kuburan Utsman dari mereka, yaitu di Baqi’.
8. Masuknya Abu Bakr, Umar, dan kemudian Utsman seperti susunan tersebut, menemui Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam ditakwilkan sebagai urutan dalam kekhilafahan. Alloh A’lam.
9. Disunahkan menggembirakan orang lain dengan berbagai kebaikan, sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dimana beliau menggembirakan ketiga sahabtnya dengam surga.

وعنْ أبي هريرة رضي اللَّه عنهُ قال : كُنَّا قُعُوداً حَوْلَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، وَمعَنَا أَبُو بكْرٍ وعُمَرُ رضي اللَّه عنهما في نَفَر ، فَقامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنْ بينِ أَظْهُرِنا فَأَبْطَأَ علَيْنَا وخَشِينا أَنْ يُقْتَطَعَ دُونَنا وَفَزِعْنَا فقُمنا ، فَكُنْتُ أَوّل من فَزِع . فَخَرَجْتُ أَبْتغي رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، حتى أَتَيْتُ حَائِطاً للأَنْصَارِ لِبني النَّجَّارِ ، فَدُرْتُ بِهِ هَلْ أَجِدُ لَهُ باباً ؟ فلَمْ أَجِدْ ، فإذَا ربيعٌ يدْخُلُ في جوْف حَائِط مِنْ بِئرٍ خَارِجَه والرَّبيعُ: الجَدْوَلُ الصَّغيرُ فاحتَفزْتُ ، فدَخلْتُ عَلى رسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم .
فقال : « أَبو هُريرة ؟ » فَقُلْتُ : نَعَمْ يَا رسُولَ اللَّهِ ، قال : « ما شَأنُك » قلتُ : كُنْتَ بَيْنَ ظَهْرَيْنَا فقُمْتَ فَأَبَطأْتَ علَيْنَا ، فَخَشِينَا أَنْ تُقَتطعَ دُونَنا ، ففَزعنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ منْ فَزعَ فأَتَيْتُ هذَا الحائِطَ ، فَاحْتَفَزْتُ كَمَا يَحْتَفِزُ الثَّعلبُ ، وَهؤلاءِ النَّاسُ وَرَائي . فَقَالَ : « يَا أَبا هريرة » وأَعطَاني نَعْلَيْهِ فَقَال : « اذْهَبْ بِنَعْلَي هاتَيْنِ ، فَمنْ لقيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذا الحائِط يَشْهَدُ أَنْ لا إلهِ إلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقناً بها قَلبُهُ ، فَبَشِّرْهُ بالجنَّةِ » وذَكَرَ الحدِيثَ بطُولِهِ ، رواه مسلم .
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Kami sedang duduk di sekitar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan bersama kami Abu Bakat dan Umar radhiyallahu ‘anhuma serta beberapa orang shahabat. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bangkit dari sekitar kami lalu pergi lama sekali sehingga kami merasa sangat khawatir dan takut jika beliau diculik.

Kami bangkit. Aku adalah orang yang pertama-tama ketakutan. Maka aku keluar untuk mencari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam hingga aku sampai di sebuah dinding kebun milik seorang Anshar dari Bani an-Najjar. Aku mencoba mengelilinginya untuk mnedapatkan pintu masuknya. Aku tidak menemukannya. Namun sebuah saluran air masuk dari tengah pagar dari sebuah sumur di bagian luarnya.

Aku pun berusaha masuk dan akhirnya berhasil masuk ke dekat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Beliau bersabda, ‘Abu Hurairah?’ Aku menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Kukatakan, ‘Engkau berada di tengah-tengah kami, lalu engkau bangkit dan pergi lama sekali sehingga kami merasa sangat takut engkau diculik dari kami. Sehingga kami sangat khawatir dan aku adalah orang yang pertama-tama merasa khawatir itu.

Sehingga aku mendatangi dinding kebun ini dan melompat laksanan seekor musang sedang melompat. Sedangkan rombongan orang-orang itu berada di belakangku’. Maka beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah’, lalu beliau menyerahkan kedua sandal baliau, dan berabda, ‘Pergilah dengan dua buah sandalku ini. Maka siapa pun yang engkau temukan di belakang dinding kebun ini yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah selain Allah dengan hati yang yakin, maka berikan kabar kepadanya berita gembira bahwa baginya surga’. Kemudian disebutkan hadits seutuhnya.” (Riwayat Muslim)

Faidah Hadits
1. Penjelasan mengenai kesungguhan dan perhatian para sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam terhadap beliau.
2. Upaya orang-orang mencari pemimpin mereka dan mencemaskanya pada saat mencarinya.
3. Di dalam terdapat pemberian isyarat atau tanda yang menunjukan kejujuran orang yang diutus.
4. Ahlu tauhid (orang-orang yang bertauhid) adalah mereka yang memberikan perhatian kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam  dan orang-orang sholih, dan mereka itulah orang-orang yang lebih berhak mendapatkan kabar gembira daripada yang lain.
5. Ucapan La Ilaaha illallaah mengharuskan pengucapnya masuk surga jika diucapkan secara tulus dari dalam hatinya.

وعن ابنِ شُماسَةَ قالَ : حَضَرْنَا عَمْرَو بنَ العاصِ رضي اللَّهُ عنه ، وَهُوَ في سِيَاقَةِ المَوْتِ فَبَكى طَويلاً ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ إِلى الجدَارِ ، فَجَعَلَ ابْنُهُ يَقُولُ : يا أَبَتَاهُ ، أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بكَذَا ؟ أَما بشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بكَذَا ؟ فَأَقْبلَ بوَجْههِ فَقَالَ : إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّه ، وأَنَّ مُحمَّداً رسُول اللَّه إِنِّي قَدْ كُنْتُ عَلى أَطبْاقٍ ثَلاثٍ : لَقَدْ رَأَيْتُني وَمَا أَحَدٌ أَشَدَّ بُغْضاً لرَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنِّي ، وَلا أَحبَّ إِليَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ قَدِ استمْكنْت مِنْهُ فقَتلْتهُ ، فَلَوْ مُتُّ عَلى تِلْكَ الحالِ لَكُنْتُ مِنْ أَهْلِ النَّار . فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الإِسْلامَ في قَلْبي أَتيْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقُلْتُ : ابْسُطْ يمينَكَ فَلأُبَايعْكَ ، فَبَسَطَ يمِينَهُ فَقَبَضْتُ يَدِي ، فقال : « مالك يا عمرو ؟ » قلت : أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرطَ قالَ : « تَشْتَرطُ ماذَا ؟ » قُلْتُ أَنْ يُغْفَرَ لي ، قَالَ : أَمَا عَلمْتَ أَنَّ الإِسْلام يَهْدِمُ ما كَانَ قَبلَهُ، وَأَن الهجرَةَ تَهدمُ ما كان قبلَها ، وأَنَّ الحَجَّ يَهدِمُ ما كانَ قبلَهُ ؟ » وما كان أَحَدٌ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وَلا أَجَلّ في عَيني مِنْه ، ومَا كُنتُ أُطِيقُ أَن أَملأَ عَيني مِنه إِجلالاً له ، ولو سُئِلتُ أَن أَصِفَهُ ما أَطَقتُ ، لأَنِّي لم أَكن أَملأ عَيني مِنه ولو مُتُّ على تِلكَ الحَال لَرَجَوتُ أَن أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ . ثم وُلِّينَا أَشيَاءَ ما أَدري ما حَالي فِيهَا ؟ فَإِذا أَنا مُتُّ فلا تصحَبنِّي نَائِحَةٌ ولا نَارٌ ، فإذا دَفَنتموني ، فشُنُّوا عليَّ التُّرَابَ شَنًّا ، ثم أَقِيمُوا حولَ قَبري قَدْرَ ما تُنَحَرُ جَزورٌ ، وَيقْسَمُ لحْمُهَا ، حَتَّى أَسْتَأْنِس بكُمْ ، وأنظُرَ ما أُراجِعُ بِهِ رسُلَ ربي . رواه مسلم .
“Dari Abu Syumamah, ia berkata, ‘Kami mengunjungi Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu ketika ia akan wafat, di mana ia menangis berkepanjangan dengan memalingkan wajahnya ke dinding. Anaknya bertanya kepadanya, ‘Wahai ayahku, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah memberimu berita gembira sedemikian rupa? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah memberimu kabar gembira sedemikian rupa?’.

Ia pun menghadap dengan wajahnya kepadanya, lalu berkata, ‘Sesungguhnya sesuatu yang terbaik untuk kita persiapkan adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Aku telah berada pada tiga tingkatan masa: Aku telah melihat diriku sendiri dan tak seorang pun yang paling benci kepada Rasulullah selain diriku. Tidak ada yang paling kusukai selain mendapat kesempatan untuk membunuh beliau. Jika aku mati dalam keadaan seperti itu, tentu aku menjadi ahli neraka.

Maka ketika Allah menjadikan Islam dalam hatiku aku bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam lalu kukatakan kepada beliau, ‘Ulurkan tangan kanan engkau, aku pasti harus berbai’at kepada engkau’.

Beliau mengulurkan tangan kanannya, lalu kutarik tanganku. Maka beliau bertanya, ‘Kenapa wahai Amr?’ Aku menjawab, ‘Aku menghendaki sebuah syarat’. Beliau bersabda, ‘Apa yang kau jadikan syarat?’ Kukatakan, ‘Agar aku diampuni semua dosaku’. Beliau bersabda, ‘Apakah engkau tidak tahu bahwa Islam menghancurkan dosa-dosa sebelumnya. Hijrah menghancurkan dosa-dosa sebelumnya. Haji menghancurkan dosa-dosa sebelumnya?’.

Pada masa kedua ini tak ada seorang pun yang paling kucintai daripada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Tak seorang pun yang paling membanggakan di mataku selain beliau. Aku tidak memapu memandang beliau sepenuh mataku karena kemuliaan beliau. Jika aku diminta untuk menyebutkan sifat-sifat beliau, aku takkan mampu karena aku tidak pernah memandang beliau sepenuh mataku. Jika aku mati pada masa itu, maka aku tentu bisa berharap menjadi ahli surga.

Kemudian pada masa ketiga ini aku dijadikan penguasa yang berkuasa atas segala sesuatu yang aku sendiri tidak mengetahui keadaanku di dalam mengemban kekuasaan itu? Jika aku mati, maka jangan diiringi dengan tangisan, jangan iringi aku dengan api. Jika kalian memakamkanku, maka masukkanlah tanah perlahan-lahan. Lalu berdiamlah di sekitar makamku sekedar selama orang memotong ternak dan membagi-bagikan daginya. Sehingga aku merasa senang dengan keberadaan kalian semua dan aku bisa menetapkan jawaban untuk para utusan Rabbku yang akan mengujiku’.” (Riwayat Muslim)

Faidah Hadits
1. Agungnya posisi Islam, hijrah dan haji, masing-masing dapat menghapuskan berbagai kemaksiatan yang dilakukan sebelumya.
2. Disunahkan mengingatkan orang yang tengah menghadapi kematian untuk berbaik sangka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, juga membacakanya ayat-ayat pengharapan dan juga hadits-hadits pengampunan di dekatnya serta menyampaikan apa-apa yang telah dijanjikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bagi kaum muslimin.
3. Disunahkan menyebutkan amal kebiaknya, agar dia berbaik sangka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan meninggal dalam keadaan berbaik sangka kepada-Nya.
4. Tingginya penghormatan dan pengagungan para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan para penuntut ilmu seharusnya melakukan hal yang sama terhdap para ulama.
5. Di dalam hadits tersebut terdapat ketaatan kepada larangan Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam, untuk tidak mengiringinya dengan ratapan dan api.
6. Disunahkan untuk menimbunkan tanah kedalam kubur, dan tidak dianjurkan untuk duduk di atas kuburan.
7. Diharamkan duduk di atas kuburan, karena adanya larangan yang jelas lagi shohih mengenai hal itu.
8. Penetapan adanya fitnah kubur dan adanya pertanyaan dua malaikat.

9. Yang termasuk sunnah adalah tinggal di kuburan dalam waktu yang singkat, dengan mendo’akan si mayit dan memohonkan keteguhan untuknya. 

Artikel terkait: