Kisah Generas Awal Islam Yang Mendapat Intimidasi Dari Kaum Musyrikin

Desember 18, 2015

Orang-orang musyrik pada saat itu sangat geram terhadap orang-orang yang telah memeluk Islam. Mereka melakukan berbagai metode untuk menjeggal berkembangnya Islam dan kaum Muslimin di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, manakala mereka melihat bahwa metode-metode yang ditempuh tidak menuai hasil sama sekali dalam upaya mengagalkan dakwah Islamiyyah; mereka mengadakan pertemuan sekali lagi untuk memusyawarahkan hal tersebut antar sesama mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melakukan penyiksaan terhadap kaum Muslimin dan menguji din mereka. Tindakan yang diambil pertama kali adalah bergeraknya masing-masing kepala suku untuk menginterogasi siapa saja yang masuk Islam dari kabilah mereka, kemudian ditindaklanjuti oleh bawahan dan kroco-kroco mereka. Maka mulailah mereka mendera kaum Muslimin dengan berbagai siksaan yang membuat bulu kuduk merinding dan hati tersayat-sayat mendengarnya.
          Adalah Abu Jahal, bila mendengar seorang lelaki masuk Islam, dari kalangan bangsawan serta memiliki kekuatan, maka dia mencaci, menghina serta mengancamnya dengan mengatakan bahwa dia akan membuatnya mengalami kerugian materi dan psikologis. Sedangkan bila orang tersebut lemah maka dia menggebuk dan menghasutnya.
          Utsman bin Affan digulung oleh pamannya dalam tikar yang terbuat dari daun kurma, kemudian diasapi dari bawahnya

          Mush’ab bin Umair, manakala ibunya mengetahui keislamannya, dia membiarkan dirinya kelaparan dan mengusirnya dari rumah padahal sebelumnya termasuk orang yang hidup serba kecukupan. Lantaran tindakan ibundanya tersebut, kulitnya menjadi bersisik layaknya kulit ular.

          Shuhaib bin Sinan ar-rumi disiksa hingga kehilangan ingatan dan tidak menyadari apa yang dibicarkannya sendiri.
          Lain lagi halnya dengan Bilal, budak milik Umayyah bin Khalaf al-Jumaahi. Lehernya dililit dengan tali, lalu tali tersebut diserahkan kepada anak-anak kecil untuk diseret dan dibawa keliling sepanjang perbukitan Makkah. Akibatnya, tali tersebut meninggalkan bekas dilehernya. Umayyah, sang majikan selalu mengikatnya kemudian menderanya dengan tongkat. Kadang ia dipaksa duduk dibawah teriknya sengatan matahari. Ia juga pernah dipaksa kelaparan. Puncak dari itu semua adalah saat dia dibawa keluar di siang hari yang sangat panas, kemudian dilemparkan ditanah lapang berkerikil di kota Makkah. Setelah itu ia ditindih dengan batu besar pada bagian dadanya. Ketika itu Umyyah berkata kepadanya, “Demi Allah, engkau akan tetap mengalami kondisi seperti ini sampai engkau mati atau engkau berpaling dari (ajaran) Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza[1]”. Meskipun dalam kondisi demikian, ia berteriak, “Allah Maha Esa, (Allah) Maha Esa” Mereka terus menyiksa hingga suatu hari Abu Bakar melewatinya, lalu membelinya dan menukarnya dengan seorang budak berkulit hitam.
          Ada riwayat yang mengatakan, (dia dibeli) sebesar tujuh uqiyyah (satu uqiyyah = 12 dirham atau 28 gram perak, pent.) atau lima Uqiyyah  dari perak, kemudian beliau memerdekakannya.
          Tak jauh dengan Ammar bin Yasir, mantan budak milik Bani Makhzum –yang telah merdeka- beserta keluarganya radhiyallahu ‘anhu. Dia, ayah dan ibunya masuk islam tak luput dari penganiayaan. Mereka diseret keluar menuju tanah lapang oleh kaum Musyrikin yang dipimpin Abu jahal di siang hari yang sangat panas dan menyengat. Mereka menyiksa keluarga tersebut dengan panasnya cuaca. Ketika mereka sedang menjalani siksaan, Nabi SAW melintas di hadapan mereka seraya bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga.”
          Yasir sang Ayah, meninggal dunia dalam siksaan tersebut sedangkan ibunya, Summayyah, ditusuk oleh Abu Jahal pada kemaluannya dengan tombak hingga meninggal dunia. Dialah wanita pertama yang mati Syahid dalam Islam. Setelah itu, kaum musyrikin meningkatkan frekuensi siksaan mereka terhadap Ammar; terkadang dengan menjemurnya saja, terkadang dengan meletakkan batu besar yang panas dan merah membara diatas dadanya dan terkadang dengan membenamkan mukanya kedalam Air. Kala itu mereka berkata kepadanya, “Kami akan terus menyiksamu hingga engkau mencaci Muhammad atau mengatakan sesuatu yang baik terhadap lata dan uzza. Maka, diapun dengan terpaksa menyetujui hal itu. Setelah kejadian itu, dia mendatangi Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam sambil menangis dan meminta maaf atas hal tersebut kepada beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam. Ketika itu, turunlah Ayat:
مَن كَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَئِنُّۢ بِٱلۡإِيمَٰنِ
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)…” (An-Nahl : 106)
          Abu Fakihah -namanya Alfah- seorang budak dari Bani Abdi ad-Dar dijerembabkan kaum musyrikin ke tanah yang melepuh oleh terik matahari, kemudian punggungnya ditindih dengan sebuah batu besar hingga tak dapat bergerak lagi. Dia dibiarkan dalam keadaan demikian sampai hilang ingatan. Suatu kali, mereka mengikat kakinya dengan tali,  lalu menyeret dan melemparkannya ke tanah yang melepuh oleh terik matahari seperti yang dilakukan terhadapnya sebelum itu, kemudian mencekiknya hingga mereka mengira dia telah mati. Saat itu, Abu Bakar melewatinya lalu membeli dan memerdekakannya semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala.
          Khabbab bin al-Arat, budak milik Ummi Anmar binti Siba’ al-Khuza’iyyah disiksa oleh kaum Musyrikin dengan aneka siksaan; rambutnya mereka jambak dengan sangat keras, lehernya mereka tarik dengan kasar lalu melemparkannya ke dalam api yang membara kemudian –dalam kondisi demikian- jasadnya mereka tarik-tarik sehingga api itu terpadamkan oleh lemak yang meleleh dari punggungnya.
          Dari kalangan budak perempuan, tersebut nama-nama seperti Zunairah, an-Nahdiyyah dan Ummu Ubais yang masuk Islam. Kaum musyrikin melakukan penyiksaan pula terhadap mereka seperti yang telah dilakukan terhadap para sahabat sebelumnya di atas.
          Seorang budak perempuan milik Bani Muammal –yaitu salah satu marga dari suku-suku Bani Adi- dipukul oleh Umar bin al-Khaththab, kala ia masih musyrik, dan manakala merasa bosan, dia berkata, “Tidaklah aku berhenti memukulmu kecuali karena bosan.”
          Semua budak-budak wanita tersebut dibeli oleh Abu Bakar kemudian dimerdekakannya sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap Bilal dan Amir bin Fuhairah.
          Kaum musyrikin juga pernah membungkus seorang sahabat dengan kulit unta dan sapi, kemudian melemparkannya ke atas tanah yang panas oleh terik matahari. Sedangkan sebagian yang lain, pernah mereka kenakan baju besi lantas dilemparkan keatas batu besar yang memanas.
          Daftar para korban yang disiksa karena membela agama Allah demikian panjang dan kisah mereka amatlah mengharukan. Alhasil, siapa saja yang mereka ketahui telah memeluk Islam maka tak ayal gerak-geriknya akan dihadang dan disakiti.



[1] Keduanya adalah nama berhala yang disembah kaum Musyrikin kota Makkah.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »