Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2016 akan segera digulirkan. Sekitar bulan April para siswa SMA di seluruh Indonesia wajib mengikuti UN sebagai syarat kelulusan. Ada kegembiraan yang sangat besar tatkala mereka telah mampu melewati masa-masa yang menakutkan tersebut dengan prestasi yang baik. Biasanya mereka melampiaskannya dengan pawai motor dan mencorat caret baju seragam dengan pilox berwarna-warni (tentu bagi pemuda muslim yang sholih tidak perlu seperti ini). Semua itu adalah bentuk selebrasi atas kebebasan yang mereka raih setelah selama tiga tahun berada di kelas-kelas sekolah. Walaupun setelah merasa bosan dengan selebrasi tersebut, mereka mulai bimbang dalam menentukan arah perjalanannya, “mau kemana kita setelah lulus SMA?”. Mau kerja atau kuliah?
Memang betul, pilihan itu ada di tangan kalian. Kalian mau kerja atau mau kuliah, atau bahkan mau jadi pengangguran itu adalah hak kalian sendiri. Tapi ingat, kalianlah yang akan menanggung akibat dari semua pilihan-pilihan tersebut. Jika kalian memilih pilihan yang terbaik, maka kalian akan meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Dan jika kalian salah dalam memilih jalan setelah lulus SMA, kalian akan menanggung derita atas kesalahan-kesalahan tersebut. Tentu semuanya harus ditimbang dengan neraca pengalaman.
Pengalaman telah memberikan data yang valid bahwa lulusan-lulusan SMA yang menjadi pengangguran akan sangat berpeluang untuk melakukan tindak kriminal, sehingga mereka hanya akan menjadi “sampah masyarakat” saja. Sedangkan lulusan-lulusan SMA yang memilih untuk bekerja, kebanyakan dari mereka akan mendapat pekerjaan yang berat dan kasar, seperti buruh pabrik, karyawan toko, Office Boy, dan lain sebagainya. Maka yang terbaik bagi para siswa yang telah lulus SMA adalah melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu ke Perguruan Tinggi atau Universitas.
Para siswa yang telah lulus SMA harus melanjutkan ke perguruan tinggi mengingat pentingnya pendidikan untuk bekal masa depan kita. Tidak bisa dimungkiri bahwa jenjang pendidikan sangat menentukan masa depan setiap orang. Orang yang jenjang pendidikannya lebih tinggi akan mendapatkan masa depan yang lebih baik daripada mereka yang tidak berpendidikan. Kedudukan di tengah-tengah masyarakat pun akan berbeda. Orang yang bergelar sarjana tidak sama dengan orang yang tidak memiliki gelar sama sekali. Begitu seterusnya, semakin tinggi titelnya, maka semakin tinggi pula kedudukannya di mata sosial. Begitu juga di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala, orang yang berilmu akan meraih kedudukan yang lebih tinggi daripada orang yang tidak berilmu.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban seorang muslim. Sebagaimana dalam hadits disebutkan, Rosululloh shollallohu 'alayhi wa sallam bersabda: “Menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu itu sangat luas, sedangkan pengetahuan yang kita miliki sangat terbatas. Untuk itu para ulama terdahulu dan para ulama terkini, mereka tidak pernah putus untuk menuntut ilmu bahkan sampai akhir hayat mereka. Imam Ahmad rahimahulloh selalu membawa pena dan tinta (untuk mencatat hadits dan faidah ilmiyah) meskipun beliau telah lanjut usia. Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Sampai kapan engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Hingga aku masuk liang kubur”. Abu Ja’far Ath-Thobari rahimahulloh (ulama ahli tafsir) menjelang wafatnya berkata, “Sepantasnya bagi seorang hamba agar tidak meninggalkan (kewajiban) menuntut ilmu agama sampai ia mati”. Begitulah semangat mereka dalam menuntut ilmu sehingga nama-nama mereka bagitu harum terkenang oleh ummat-ummat setelahnya.
Disamping merupakan kewajiban, menuntut ilmu adalah sebuah kebutuhan. Karena masa depan yang cerah sangat tergantung dengan tingkat pendidikan seseorang. Tidak dinafikan bahwa orang yang memiliki gelar sarjana lebih dicari oleh dunia kerja daripada mereka yang hanya lulus SMA. Dan bahkan jika instansi atau perusahaan besar melakukan open recruitment, mereka akan memilih orang-orang yang bergelar sarjana untuk dijadikan mitra kerja (karyawan). Dari situlah ia akan memperoleh manfaat yang lainnya berupa penghasilan yang lebih tinggi. Menurut penelitian, orang yang memiliki gelar pendidikan yang lebih tinggi cenderung memperoleh 25 % penghasilan lebih dari mereka yang tidak memilikinya. Semakin tinggi status pendidikan yang ditempuh, semakin cemerlang karir yang dia miliki. Sebab tingkat kreatifitasnya pun semakin baik. Imam Syafi’i rahimahulloh mengatakan: “Barangsiapa menghendaki kesukesan dunia, maka hendaknya ia berilmu. Dan barangsiapa menghendaki kesuksesan akhirat, maka hendaknya ia berilmu. Dan barangsiapa menghendaki kesuksesan keduanya (dunia dan akhirat), maka hendaknya ia berlimu”.
Tidak mudah memang untuk menlanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Terutama untuk siswa yang orang tuanya berpenghasilan rendah. Melangitnya biaya kuliah sangat memberatkan mereka, sehingga kebanyakan siswa yang orang tuanya kurang mampu kandas hanya sampai tingkat SMA saja. Ketika seperti ini keadaannya, maka setiap siswa dituntut untuk tetap optimis dan kreatif. Menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang program beasiswa S1. Tidak menutup kemungkinan ada perguruan tinggi-perguruan tinggi yang menyediakan beasiswa bagi siswa-siswa yang kurang mampu. Seperti pesantren Ma’had Huda Islami di Bogor, di sana dibuka beasiswa S1 PAI Program Pendidikan Da’i Nusantara (PPDN). Kuliahnya gratis sampai sarjana. Kalian bisa buka linknya di: www.beasiswapendidikanislam.com. Di kampus ini kalian bisa belajar al Qur’an, menghafalnya dan mengamalkannya bahkan sampai tingkat mendakwahkannya. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Wallohu a’lam.
EmoticonEmoticon