MAKNA WAHYU DARI ALLAH

November 13, 2016
Manusia akan menjadi mulia  selama tetap berpegang kepada wahyu itu, dan akan hancur serta hina bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu dan eksistensinya sudah tak dapat diragukan lagi, dan manusia perlu kembali kepada petunjuk wahyu demi jiwanya yang haus akan nilai-nilai luhurnya.

Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, bukanlah rasul pertama yang diberi wahyu. Allah juga telah menurunkan wahyu kepada para rasul sebelumnya.
Sungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada mu (hai Muhammad), sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh, dan nabi-nabi yang diutus sesudahnya; Kami juga telah memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim, Nabi Isma’il, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, dan nabi-nabi keturunannya, Nabi Isa, Nabi Ayub, Nabi Yunus, Nabi Harun, dan Nabi Sulaiman; juga kami telah memberikan kepada Nabi Dawud; Kitab Zabur. Dan (kami telah mengutuskan) beberapa orang rasul yang telah Kami ceritakan kepadamu dahulu sebelum ini, juga rasul-rasul yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Dan Allah benar-benar telah berkata-kata secara langsung kepada Nabi Musa dengan kata-kata.” (QS. An-Nisa: 163-164)

“Patutkah manusia merasa heran dengan sebab Kami telah mewahyukan kepada seorang laki-laki dari antara mereka; Berilah peringatan kepada umat manusia (yang ingkar), dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman, bahwa bagi mereka kedudukan yang sungguh mulia di sisi Tuhan mereka. (Setelah Nabi Muhammad datang kepada mereka), berkatalah orang-orang kafir (yang merasa heran) itu, “Sesungguhnya (Muhammad) itu tukang sihir yang nyata. (QS. Yunus: 2)

Arti Wahyu

Dikatakan; wahaitu ilaihi dan auhaitu. Kalimat ini digunakan jika tidak ingin orang lain mendengarnya. Wahyu mengandung makna isyarat yang cepat. Itu terjadi biasanya melalui pembicaraan yang berupa simbol, terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat sebagaian anggota badan.

Al-Wahyu (wahyu) adalah kata mashdar (infinitif). Dia menunjuk pada dua pengertian dasar, yaitu; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, dikatakan, “Wahyu ialah informasi secara tersmbunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengeritan dasarnya (mashdar). Tetapi terkadang tanpa juga bermaksud al-muha, yaitu pengertian isim maf’ul, maknanya yang diwahyukan. Secara etimologi (kebahasaan) pengertian wahyu meliputi:

1. Ilham al-fithri li al-insan (ilham yang menjadi fitrah manusia). Seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa,
وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ...
“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia...” (QS. Al Qashash: 7)

2. Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah,
وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ ٦٨
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS. An-Nahl: 68)

3. Isyarat yang cepat melalui isyarat, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan al-Qur’an,
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنَ ٱلۡمِحۡرَابِ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ أَن سَبِّحُواْ بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا ١١
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

4. Bisikan setan untuk menghias yang buruk agar tampak indah dalam diri manusia.
...وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ... ١٢١
“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu...” (QS. Al An’am: 112)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)...” (QS. Al An’am: 112)

5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikat-Nya berupa perintah untuk dikerjakan.
إِذۡ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ...
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”.” (QS. Al Anfal: 12)


Sedangkan wahyu Allah kepada Nabi-Nya, secara syariat mereka didefinisikan sebagai “Kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi.”. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu al-muha (yang diwahyukan).


 Minyak Zaitun Ruqyah (MIZAR)


Artikel Terkait

Previous
Next Post »