MEMBERI MAAF DAN BERPALING DARI ORANG-ORANG BODOH (BAB 75)

Februari 19, 2017
Bismillah.. Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala rasulillah..
Postingan kali ini adalah pembahasan Kitab Riyadhushshalihin pada bab ke 75 tentang perintah memberi maaf dan berpaling dari orang-orang bodoh. Semoga bermanfaat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ ١٩٩
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
...فَٱصۡفَحِ ٱلصَّفۡحَ ٱلۡجَمِيلَ ٨٥
“...maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfriman,
وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ٢٢
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ٤٣
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43)

Hadits ke 1 dari bab ini atau haidts 534 dari kitab Riyadhushshalihin
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم هَلْ أَتَي عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمٍ أُحُدٍ؟ قَالَ: لَقَدْ لَقِيْتُ مِنْ قَوْمِكِ، وَكَانَ أَشَدُّ مَالَقِيْتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيْلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِى إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ اِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا أَنَابِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِى، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيْهَا جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَنَادَانِى فَقَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيْهِمْ، فَنَادَانِى مَلَكُ الْجِبَالِ، فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِى رَبِّى إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِى بِأَمْرِكَ، فَمَا شِئْتَ: إِنْ شِئْتَ أَطْبَقْتُ عَلَيْهِمْ الأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَايُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Apakah engkau pada suatu hari (pernah) mengalami penderitaan lebih serius daripada waktu perang Uhud?” Beliau menjawab: “Aku benar-benar telah mendapat penderitaan karena ulah kaummu, dan penderitaan yang paling berat yang aku terima dari mereka adalah pada hari Aqabah. Ketika itu aku menawarkan dakwahku kepada putera Abduyalil Ibn Abdukulaal, ternyata dia tidak menyambut apa yang aku inginkan, maka aku pergi dengan perasaan sedih sekali (yang menyelimuti) sepanjang perjalananku. Aku tidak tersadarkan diri kecuali (ketika sampai) di Qarn Ats-Tsa’alib, maka aku angkat kepalaku ternyata ada mendung yang menaungiku. Aku memperhatikannya ternyata di sana ada Jibril ‘alayhissalam, dia memanggilku dan mangatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu, dan bantahan-bantahan mereka terhadapmu. Dia mengirim malaikat penjaga gunung kepadamu agar kamu memerintahkannya untuk melakukan apa saja yang kamu kehendaki terhadap mereka.” Maka malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kemudian berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu, aku adalah malaikat penjaga gunung, aku diutus oleh Tuhanmu kepadamu agar kamu memerintahkan aku sehubungan dengan perkaramu ini, terserah engkau, kalau kamu mau aku akan menjatuhkan dua gunung ini kepada mereka.” Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Justru aku berharap semoga Allah melahirkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang  menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kandungan Hadits 1 (534)
1.    Penjelasan mengenai kasih sayang Rasulullah  kepada ummatnya dan kesabaran beliau dalam mengahadapi berbagai hal yang tidak menyenangkan serta pemberian maaf beliau kepada orang-orang yang berbuat tidak baik kepada beliau.
2.    Bencana yang menghadang para da’i ke jalan Allah itu sangat beragam, di antaranya berupa penyiksaan, pendustaan, dan penghinaan.
3.    Para da’i tidak boleh memaksa orang-orang untuk mengikuti dan mengimani dakwah mereka, tetapi yang wajib mereka lakukan adalah menyampaikan dakwah kepada seluruh ummat manusia.
4.    Penetapan dua sifat bagi Allah, yaitu sifat mendengar dan melihat. Bahwasanya Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat. Tidak ada sesuatu pun dan bunyi-bunyian yang tidak terdengar oleh-Nya. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun dimana keragaman suara, gerakan, dan diamnya sesuatu tidak membingungkan-Nya.
5.    Pemeliharaan Allah terhadap para wali-Nya, bahwasanya Dia adalah Penolong mereka, jika mereka mau menolong agama-Nya.
6.    Para Malaikat itu mempunyai aktivitas tersendiri yang mereka kerjakan atas perintah Allah.
7.    Para da’i harus benar-benar melihat masa depan dakwah dan tidak hanya pada masa kini saja. Oleh karena itu, bukan suatu yang bijak dalam dakwah tindakan menyegerakan turunnya adzab bagi orang-orang yang menolak seruan.
8.    Tujuan dan sasaran dakwah adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, agar mereka menyembah Allah semata.

Hadits ke 2 (535)
وَعَنْ عَائِشَةَ قَلَتْ: مَاضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَاامْرَأَةً وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ وِمَانِيلَ مِنْهُ شَيْئٌ قَطٌّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْئٌ مِنْ مَحَارِمِ اللهِ تَعَلَى، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ تَعَالى. (رَوَهُ مسلم)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, tidak pernah memukul istri ataupun pembantu, kecuali jika beliau berjihad di jalan Allah. Dan beliau tidak pernah diganggu sedikitpun kemudian menuntut balas pada pelakunya kecuali jika ada sesuatu dari yang haramkan Allah dilanggar maka beliau menuntut balas untuk Allah.” (HR. Muslim)

Kandungan Hadits 2 (535)
1.    Penjelasan mengenai kesabaran Rasulullah dan pemberian maaf beliau atas apa yang menimpa dirinya.
2.    Marah karena Allah sama sekali tidak bertentangan dengan sifat al-hilmu, santun, ramah, pemaaf.

Hadits ke 3 (536)
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ أَمْشِيْ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيْظُ الْحَاشَيَةِ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَبَذَهُ بِرِدَائِهِ جَبْدَةً شَدِيْدَةً، فَنَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاطِقِ الْنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ أَثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَبْذَتِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللهِ الَّذِيْ عِنْدَكَ. فَلْتَفَتَ  إِلَيْهِ، فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَلَهُ بِعَطَاءٍ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, beliau mengenakan selimut buatan Najran yang tebal pinggirnya, tiba-tiba beliau didatangi oleh seorang badui lalu dia menarik selendang beliau dengan keras sekali. Maka saya lihat leher Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam (bagian samping) telah lecet oleh pinggiran selimut yang ditarik dengan keras itu, kemudian dia berkata: “Hai Muhammad berikanlah kepadaku dari harta Allah yang ada padamu.” Maka beliau menoleh kepadanya sambil tersenyum kemudian beliau memerintahkan (orang yang bersama beliau) untuk memberinya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kandungan Hadits 3 (536)
1.    Kekasaran orang badui dan kekakuan mereka dalam bermu’amalah. Orang badui itu telah menarik selendang Rasulullah  dengan keras, memanggil dengan namanya saja, serta meminta sesuatu kepada beliau. (larangan memanggil Nabi langsung dengan namanya, QS. An-Nur 63)
2.    Akhlak mulia Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, kesabaran beliau menghadapi orang-orang bodoh, dan ketabahan beliau menghadapi berbagai tindakan menyakitkan dari mereka, serta pemberian maaf beliau kepada orang yang berbuat jahat kepada beliau.
3.    Dianjurkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan serta tidak mem balas keburukan dengan keburukan serupa. (QS. Fushshilat: 34)
4.    Dianjurkan bagi seorang da’i untuk membuat senang hati orang yang berbuat kesalahan dan tidak bersikap kasar kepadanya, karena yang demikian itu lebih bermanfaat baginya dalam memberikan nasihat kepadanya dan lebih bisa diharapkan untuk kembali kepada kebenaran.

Hadits ke 4 (537)
وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَلَ: كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَحْكِى نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ، ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ، وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ. (مُتَّفّقٌ عَلَيْهِ)
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Sepertinya saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sedang menceritakan seorang Nabi dari para Nabi –semoga shalawat dan salam Allah atas mereka-, Nabi itu dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, dia menyeka darah dari mukanya seraya berdo’a: “Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kandungan Hadits 4 (537)
1.    Penjelasan bahwa para Nabi itu adalah orang-orang yang mendapatkan cobaan dan ujian yang paling berat, lalu diikuti oleh para pengikutnya, dan demikian seterusnya.
2.    Ummat manusia ini tidur dan tidak mengetahui hakikat tempat kembali mereka, sehingga mereka tidak mengetahui orang yang menginginkan kebaikan bagi mereka dan mengajak mereka kepada kebaikan.
3.    Kewajiban untuk bersabar dan menghadapi berbagai hal yang tidak me- nyenangkan di jalan Allah.
4.    Dianjurkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan.
5.    Diperbolehkan mendo’akan orang-orang kafir supaya diberi petunjuk.
6.    Kesempurnaan akhlak para Nabi.

Hadits ke 5 (538)
وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. (مُتَّفّقٌ عَلَيْهِ)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Bukanlah orang kuat itu orang yang selalu menang dalam gulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya disaat marah.” (HR. Bukhari-Muslim).

MATERI RIYADHUSHSHALIHIN LAINNYA:

Artikel Terkait

Previous
Next Post »