MENJADI REMAJA MUSLIM BERPRESTASI

Juli 16, 2014
Remaja: Usia dewasa, bukan anak bukan pula orang tua. Prestasi: Hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan, dll.
Remaja berprestasi adalah dambaan setiap orang. Ia menjadi kebanggaan bagi setiap orang tua, guru dan teman-teman sebayanya. Seorang remaja mendapat gelar ‘remaja berprestasi’ ketika ia memiliki kelebihan-kelebihan/keunggulan-keunggulan tertentu (positif) dibanding dengan para remaja yang lainnya. Berbagai event kejuaraan dapat dimenangkannya. Piala dan tropi penghargaan memenuhi kamar pribadinya. Semua itu adalah hasil dari kerja keras dalam belajarnya.

Ketika dia adalah seorang remaja muslim/muslimah, maka ia adalah seorang remaja yang tumbuh berkembang dalam peribadahan kepada Allah. Beriman dan bertakwa kepada-Nya, mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia adalah seorang remaja yang selalu rindu mendekat kepada Allah, rindu dengan masjid, rindu tilawah al-Qur’an dan rindu mempelajari ilmu-ilmu agama. Ia juga mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah dipelajarinya dan aktif mendakwahkan kepada teman-temannya. Inilah remaja muslim berprestasi.

Untuk menjadi remaja muslim berprestasi, kita bisa mengamalkan beberapa point berikut ini:

1.      Berdo’a kepada Allah
Sebagai seorang mukmin, selayaknya segala keinginan dan cita-citanya harus digantungkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Dia-lah tempat bergantung segala sesuatu. Allah subhanahu wa ta’ala  adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan do’a, Dia menyeru hamba-hamba-Nya agar berdo’a memohon kepada-Nya atas segala keinginan dan cita-citanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". (QS. Al-Mukmin: 60)

Lihatlah wahai para remaja, betapa Allah mendambakan hamba-hamba-Nya untuk berdo’a meminta kepada-Nya. Dia senantiasa siap dan mampu untuk mengabulkan segala permohonan kita. Dia juga berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullah shallallhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang enggan berdo’a kepada Allah, maka Dia pun marah kepadanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

2.      Belajar dan Beramal
Belajar merupakan salah satu proses untuk mendapatkan prestasi terbaik. Dengan belajar seseorang akan mendapatkan ilmu-ilmu yang belum dia ketahui, dengan cara inilah ilmunya akan terus bertambah dan bertambah. Ilmu dalam kaitan prestasi seorang ramaja sangat penting kedudukannya, karena ilmu adalah kunci keberahasilan untuk meraih cita-cita. Imam Syafi’i rahimahullah berkata;
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْأَخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa yang menghendaki dunia, hendaknya dia berilmu, dan barang siapa yang menghendaki akhirat, hendaknya dia berilmu. Dan barang siapa yang menghendaki keduanya (dunia dan akhirat), maka hendaknya dia berilmu.”

Karena begitu pentingnya ilmu, maka setiap muslim diwajibkan untuk menuntutnya. Rasulullah shallallohu ‘alayhi wa sallam menekankan kepada ummatnya untuk terus menuntut ilmu. Beliau bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَي كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)

Bahkan beliau sendiri mendapat bimbingan dari Allah subhanahu wa ta’ala agar senantiasa memohon dan berdo’a untuk meminta tambahan ilmu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabb, tambahkanlah kepadaku ‘ilmu” (QS. Thohaa: 114)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan tentang ayat di atas, “Dan cukuplah ayat ini menjadi bukti bagi kemuliaan ilmu, bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu”. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, mengutip parkataan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah “Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam senantiasa meminta tambahan ilmu hingga beliau wafat.”

Maka beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam pun mengajarkan kepada ummatnya beberapa do’a untuk dipanjatkan kepada Rabbul ‘alamin:
اللهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا علَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَايَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا
“Ya Allah.. berikan manfaat atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkan kepadaku apa yang bermanfaat bagiku dan tambahkan kepadaku ilmu”

METODE BELAJAR
A.     MEMBACA

Membaca adalah kemampuan dasar yang dapat membantu Anda untuk memahami pelajaran. Dengan banyak membaca Anda akan semakin banyak menyerap pengetahuan, wawasan dan kosa kata. Ada beberapa petunjuk yang harus Anda perhatikan di dalam aktivitas belajar. Di antaranya:
·         Bacalah pelajaran terlebih dahulu, sekali dua kali atau lebih. Di sini di perlukan perhatian yang serius dan kehati-hatian anda dalam membaca.
·         Tulislah kalimat-kalimat atau rangkaian kata yang belum Anda mengerti pada buku catatan dan carilah keterangan melalui literature yang dimiliki atau Tanya langsung, melalui surat/telepon/fax kepada ahlinya.
·         Kembangkanlah satu rangkaian kalimat yang difahami dengan keterangan-keterangan yang pernah didengar, dibaca dan dipelajari, atau pemahaman-pemahaman yang pernah diketahui dengan membuat pertanyaan-pertanyaan pokok, antara lain: dimana, kapan, apa, bagaimana, kenapa, siapa dan lain-lain.

B.     MENULIS

Tulisan merupakan modal penting dalam belajar. Anda harus rajin menulis setiap hari dari pelajaran-pelajaran yang telah Anda terima dengan memuat materi-materi penting, membaca disertai menulis membantu anda untuk lebih memahami pelajaran. Cobalah Anda memiliki dua buku catatan, pertama untuk menulis keterangan dalil satu masalah (Al-Qur’an dan haditsnya) dan yang kedua sebagai catatan materi-materi pokok dan isi.
C.     MENGHAFAL
Menghafal sangat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Untuk itu kita harus berusaha mengatur situasi-situasi dan kondisi yang dapat memudahkan kita untuk menghafal pelajaran. Di antaranya:
·         Tentukanlah waktu dan kondisi yang baik untuk menghafal seperti menjelang subuh, di dalam masjid atau di dalam kamar belajar yang memenuhi syarat.
·         Hafalah ayat-ayat penting atau hadits-hadits yang shahih dalam satu masalah secara lengkap. Artinya himpunlah ayat-ayat atau hadits dalam satu bahasa tersebut pada buku catatan, lalu urutlah untuk menghafalnya.

Untuk memahami dan memantapkan pemahaman pada pelajaran, maka hal-hal di bawah ini perlu dijadikan acuan:
·         Kebenaran sumber, artinya agama bersumber dari al Qur’an dan Sunnah. Maka untuk menentukan tepat atau tidaknya satu keputusan masalah, harus dipertanyakan dalil kebenarannya dalam al Qur’an dan Sunnah (surat apa dan ayat berapa/riwayat apa dan shahih atau tidak)
·         Kebenaran faham. Artinya bahwa untuk memahami agama secara tepat dan benar, kita harus meruju’ kepada bagaimana para shahabat Nabi  yang mengalami langsung kebenara (al Qur’an dan Sunnah) itu memahami kandungan al Qur’an dan Sunnah tersebut, maka carilah rujukan pemahaman mereka dengan baik dan benar.

Setelah belajar, maka kita dituntut untuk mengamalkanya. Pengamal ilmu yang sudah kita pelajari akan semakin mengokohkan ilmu tersebut dalam diri-diri kita. Bahkan pengamalan ilmu yang diketahui akan menambah ilmu-ilmu yang lainnya. Jika kita mempraktekkan teori-teori yang kita serap dari pelajaran sekolah yang telah lalu, maka dapat dipastikan kita akan mendapat ilmu baru dari praktek tersebut. Begitu juga ketika kita bersungguh-sungguh belajar ilmu Agama dan mengamalkannya, maka kita akan mendapatkan ilmu baru yang belum kita ketahui. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴾
Dan orang-orang yang berjihad untuk (men-cari keridoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh  benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”  [QS. al-‘Ankabut (29): 69]              
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir  berkata:
( اَلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ بِمَا يَعْلَمُوْنَ يَهْدِيْهِمُ اللهُ لِمَا لاَ يَعْلَمُوْنَ )
“Yaitu orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, maka Alloh akan menunjuki  mereka ilmu-ilmu yang belum mereka ketahui.”

Seorang pelajar yang banyak berlatih mengerjakan soal dan banyak mempraktikan teori-teori yang dipelajarinya akan mendapat keajaiban yang sangat luar biasa dalam dirinya. Ia akan mampu menghadapi ujian dengan baik, dan pasti akan dapat mengungguli teman-temannya yang malas belajar.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
فَإِنَّ العَزِيْمَةَ وَالْمَحَبَّةَ تُذْهِبُ الْمَشَقَةُ، وَتُطَيِّبُ السَّيْرِ
“Sesungguhnya tekad yang kuat dan cinta dapat mengenyahkan kesulitan dan memperindah jalan berliku”

3.      Bertakwa Kepada Allah.
Takwa adalah “Melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya”. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan satu kisah tentang dialog antara Umar bin Khaththab dan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhuma. Kisahnya seperti di bawah ini;
Umar bin Al-Khaththab : bertanya kepada Ubay bin Ka’ab  tentang taqwa
Dikatakan bahwa ‘Umar bin al-Khoththob pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab  mengenai takwa. Lalu Ubay bertanya kepadanya, “Apakah engkau pernah melewati jalan berduri?” Umar menjawab, “Ya.” Ubay bertanya lagi: “Lalu apa yang engkau lakukan?” ‘Umar menjawab, “Aku akan berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk menghindarinya.” Lalu Ubay mengatakan: “Itulah Taqwa.” (*Tafsir al Baghawi [I/59], Jami’ul ‘Ulum wal Hikam [I/160])
Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu berkata tentang takwa, bahwa takwa adalah;
الخَوْف عَنِ الجَلِيْلِ وعَمَلُ بِ التَّنْزِيْلِ وَالقَنَعَةُ بِ القَلِيْلِ وَالإِسْتِعْدَادُ بِ يَوْمِ الرَّخِيْل
“Takut kepada Yang Mahamulia, dan beramal dengan al-Qur’an dan Sunnah, dan merasa cukup dengan yang sedikit, serta bersiap-siap untuk menyongsong hari Akhirat.”

Selama soerang Muslim bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka kesuksesan akan diraihnya siang-malam, dunia dan akhirat.  Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan kesuksesan bagi orang-orang yang bertakwa:
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَءَامِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴾
“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rosul), bertaqwalah kepada Alloh  dan ber-imanlah kepada Rosul-Nya, niscaya Alloh  memberikan rahmat-Nya kepada kalian dua bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Hadid (57): 28]  
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ﴾
“Hai orang-orang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Alloh  mempunyai karunia yang besar.” [QS. al-Anfal (8): 29]
Dengan takwa, seorang hamba akan mendapat jalan keluar pada setiap keselitan-kesulitan yang dihadapinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢)

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »