HAKIKAT DUNIA

Juli 18, 2014

Dunia menurut pandangan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (٢٠)
“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (٦٤)
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Pesan-pesan kenabian juga begitu banyak mengupas dan menyingkap hakikat keterhinaan dunia ini di hadapan Allah. Seperti dalam pesan-pesan kenabian berikut:
“Pada hari Kiamat didatangkanlah penduduk dunia yang paling nikmat hidupnya namun di Akhirat ia dimasukkan ke dalam Neraka. Ia pun dicelupkan sekali ke dalam Neraka, lalu ditanya, “Wahai anak Adam! Apakah engkau pernah melihat kenikmatan sedikitpun? Apakah engkau pernah merasakan kelezatan sedikitpun? Ia pun menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai Tuhanku!”
            Kemudian didatangkanlah penduduk dunia yang paling menderita namun di Akhirat ia dimasukkan ke dalam Surga. Ia pun dicelupkan sekali ke dalam Surga, lalu ditanya: “Wahai anak Adam! Apakah engkau pernah melihat kesulitan sedikit saja? Apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan meski sedikit?” Maka ia menjawab: “Tidak, demi Allah, aku tak pernah merasakan kesengsaraan sedikit pun, dan tidak pernah melihat kesusahan sedikitpun!” (HR. Muslim)

Dalam pesan yang lain Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْ شُرْبَةِ مَاءٍ
“Seandainya dunia di sisi Allah senilai dengan selembar sayap nyamuk, maka tidak seorang kafirpun yang diperbolehkan untuk meneguk seteguk air.” (HR. At-Tirmidzi)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah tidur berbaring di atas sebuah tikar yang dibuat dari pelepah kurma. Ketika bangun, tikar itu membekas di punggungnya. Kami pun bertanya: “Wahai Rasulullah! Kami akan mengambilkan alas yang lebih halus untuk Anda!” Namun beliau mengatakan: “Ada urusan apa antara aku dengan dunia?! Aku di dunia ini tak lebih dari ibarat seorang pengendara yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Dunia tidak lebih dari sekedar jembatan yang mengantarkanmu ke Akhirat. Manusia yang masih hidup ibarat seorang musafir yang ingin kembali ke kampung halamannya yang sejati. Karena itu Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
كُنْ فِي الدُّيَا كَأَنَّمَا غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Hiduplah di dunia seolah engkau adalah orang asing atau seorang penyeberang jalan.”

Jabir Ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah mentuturkan: Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah melintas sebuah pasar sementara orang-orang ramai di samping beliau. Lalu tiba-tiba beliau melewati sebuah kambing bertelinga kecil yang sudah mati. Lalu beliau bertanya: “Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini 1 dirmah?” Lalu orang-orang itu berkata: “Kami bahkan tidak mau membelinya dengan harga yang lebih rendah dari itu! Apa yang kami dapat lakukan dengannya” Rasulullah lalu bertanya: “Apakah kalian ingin kambing ini menjadi milik kalian” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, demi Allah, andai saja ia masih hidup, kambing ini mengandung aib karena telinganya yang kecil. Apalagi jika ia sudah menjadi bangkai seperti ini?” Rasululloh pun bersabda: “Demi Allah! Sesunguhnya dunia itu jauh lebih hina di sisi Allah dibandingkan dengan kambing ini!” (HR. Muslim)


Salah satu wasiat ‘Isa ‘alayhissalam kepada pengikutnya tentang dunia adalah, “Sebrangilah ia, dan janganlah kalian terlalu memakmurkannya.”

Beliau juga pernah mengatakan, “Siapakah gerangan yang mau membangun rumah di atas gelombang lautan? Seperti itulah adanya dunia, maka janganlah kalian menjadikannya sebagai tempat bermukim kalian yang sesungguhnya.”


Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mengatakan: “Sesungguhnya dunia ini perlahan pergi meninggalkan kita, sementara Akhirat perlahan berjalan mendekati kita, dan masing-masing memiliki ‘anak’. Maka jadilah kalian sebagai ‘anak-anak Akhirat’ dan janganlah menjadi ‘anak-anak dunia’! Sebab hari ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab sedikitpun, namun besok (Akhirat) adalah waktu untuk melakukan hisab dan tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.”

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Sesugguhnya dunia bukanlah tempat kalian berdiam. Allah telah menuliskan kefanaan untuknya, serta menuliskan kematian bagi para penhuninya. Berapa banyak tempat yang megah dan kuat, namun tidak lama kemudian ia menjadi hancur. Dan berapa banyak pemukim yang merasa nyaman, namun tidak lama kemudian ia mati. Maka persiapkanlah perjalanan kalian dengan menyiapkan kendaraan terbaik yang kalian miliki! Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Al-Hasan al-Bashry rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya engkau tidak lain adalah sekumpulan hari-hari, setiap kali satu hari berlalu maka berarti hilang pula sebagian dirimu.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma suatu ketika juga pernah mengatakan: “Kelak dunia pada hari Kiamat akan didatangkan dalam wuud seorang wanita tua yang keriput, taringnya kuning, dan rupanya sangat buruk. Lalu ketika ia mendatangi para makhluk, mereka ditanya: “Apakah kalian tahu siapa ini?”
Mereka menjawab: “Na’udzubillah!” Kami mohon dijauhkan untuk tidak mengenal wanita ini!”
Maka dikatakanlah kepada mereka, “Inilah dunia yang kalian perselisihkan dan menyebabkan kalian saling memutuskan silaturahmi, yang dengannya kalian saling mendengki, bermusuhan dan membuat kalian tertipu.”

Lalu ia dilemparkan ke dalam Jahannam, hingga ia berteriak: “Wahai Tuhanku! Ke mana gerangan para pengikut dan pengagumku?”
Allah ‘Azza wa jalla mengatakan: “Ikutkan bersamanya (bersama dunia) para pengikut dan pengagumnya!”

PANDANGAN ISLAM TERHADAP HARTA

Harta adalah perhiasan dunia
Islam mensyari’atkan agar manusia menikmati kebaikan dunia. Menurut Islam, harta adalah sarana untuk memperoleh kebaikan, sedangkan segala sarana untuk memperoleh kebaikan adalah baik. Harta dalam konteks Al-Qur’an adalah suatu kebaikan (khairun).
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (٨)
“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” (QS. Al-‘Adiyat: 8)
Allah Ta’ala berfirman,
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (٢١٥)
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja (khairun) harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan..." (QS. Al-Baqarah: 215)

Harta juga merupakan ujian bagi seorang hamba.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥)
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (٢٨)
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)



Artikel Terkait

Previous
Next Post »