Loading...
Tampilkan postingan dengan label ILMU AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan

MACAM-MACAM CARA TURUNNYA WAHYU DARI ALLAH

November 13, 2016 Add Comment
Pada postingan yang lalu, kami telah menayangkan pembahasan tentang arti wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Alhamdulillah, postingan kali ini kita lanjutkan tentang macam-macam cara turunnya wahyu dari Allah. Selamat membaca.


Cara Wahyu Allah Turun Kepada Malaikat

1. Dalam Al-Qur’an Al-Karim terdapat nash mengenai kalam Allah kepada Malaikat-Nya,
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا ...
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya..." (QS. Al-Baqarah: 30)

Juga tentang wahyu Allah kepada mereka, “Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anfal: 12)

Ada juga nash tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya, “Demi malaikat-malaikat yang membagi-bagikan urusan dunia.” (QS. Adz-Dzariyat: 4), “Dan demi malaikat-malaikat yang mengatur urusan dunia.” (QS. An-Nazi’at: 5).

Ayat-ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan perbicaraan yang difahami oleh para malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadits dari Nuwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan. Dia berbicara melalui wahyu, maka langitpun bergetar dengan getaran –atau dia menyatakan dengan goncangan– yang dahsyat karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika penghuni langit mendengarnya, mereka pingsan dan jatuh. Lalu bersujud kepada Allah. Yang pertama kali mengangkat kepala di antara mereka itu adalah Jibril, lalu Allah menyampaikan wahyunya kepada Jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, para malaikatnya bertanya kepada Jibril: “Apak yang telah difirmankan oleh Tuhan kita, wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Dia mengatakan yang hak dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Ath-Thabrani).

Hadits ini menjelasakan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, yang didengar oleh para malaikat. Pengaruh wahyu itu sangat dahsyat. Pada zhahirnya –di dalam perjalanan Jibril untuk menyampaikan wahyu, haidts di atas menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai Al-Qur’an, akan tetapi hadits tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok persoalan itu terdapat di dalam hadits shahih, “Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat mengepak-ngepakkan sayapnya karena pengaruh firman-Nya, bagaikan mata rantai di atas batu yang licin.”

2. Jelas bahwa Al Qur’an telah dituliskan di lauhul mahfuzh, berdasarkan firman Allah, “Bahkan ia adalah Al-Qur’an yang mulia yang tersimpan di lauhul mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 21-22)

Demikian juga Al-Qur’an itu diturunkan sekaligus ke Baitul ‘Izzah yang berada di langit dunia pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan, “Sesungguhnya Kami menurunkannya –al-Qur’an– pada Lailatul qadar.” (QS. Al Qadar: 1); “Sesungguhnya Kami menurunkannya –al-Qur’an– pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 3); “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Di dalam Sunnah terdapat hal yang menjelaskan turunnya Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa nuzul itu bukanlah turun ke dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Dari Ibnu ‘Abbas dengan hadits mauquf, “Al Qur’an itu diturunkan sekaligus ke langit dunia pada Lalilatul qadar. Setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun. Lalu Ibnu ‘Abbas membaca ayat, “Tidaklah orang-orang kafir datang kepadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik peneyelesaiannya.” (QS. Al-Furqan: 33) “Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan berangsur-angsur agar kamu membacanya secara perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa: 106). (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan An-Nasa’i)

Dalam satu riwayat disebutkan, “Telah dipisahkan Al-Qur’an dari adz-Dzikr, lalu diletakkan di Baitul ‘Izzah  di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alayihi wa Sallam.” (HR. Al-Hakim dan Ibnu Abi Syaibah).

Oleh sebab itu, para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Al-Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat:

a. Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafazhnya yang khusus.
b. Jibril menghafalnya dari Lauh Al-Mahfuzh.
c. Maknanya disampaikan kepada Jibril, sedangkan lafazhnya dari Jibril, atau Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Pendapat pertama yang benar. Pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, serta diperkuat oleh hadits Nuwas bin Sam’an di atas.

MAKNA WAHYU DARI ALLAH

November 13, 2016 Add Comment
Manusia akan menjadi mulia  selama tetap berpegang kepada wahyu itu, dan akan hancur serta hina bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu dan eksistensinya sudah tak dapat diragukan lagi, dan manusia perlu kembali kepada petunjuk wahyu demi jiwanya yang haus akan nilai-nilai luhurnya.

Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, bukanlah rasul pertama yang diberi wahyu. Allah juga telah menurunkan wahyu kepada para rasul sebelumnya.
Sungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada mu (hai Muhammad), sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh, dan nabi-nabi yang diutus sesudahnya; Kami juga telah memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim, Nabi Isma’il, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, dan nabi-nabi keturunannya, Nabi Isa, Nabi Ayub, Nabi Yunus, Nabi Harun, dan Nabi Sulaiman; juga kami telah memberikan kepada Nabi Dawud; Kitab Zabur. Dan (kami telah mengutuskan) beberapa orang rasul yang telah Kami ceritakan kepadamu dahulu sebelum ini, juga rasul-rasul yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Dan Allah benar-benar telah berkata-kata secara langsung kepada Nabi Musa dengan kata-kata.” (QS. An-Nisa: 163-164)

“Patutkah manusia merasa heran dengan sebab Kami telah mewahyukan kepada seorang laki-laki dari antara mereka; Berilah peringatan kepada umat manusia (yang ingkar), dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman, bahwa bagi mereka kedudukan yang sungguh mulia di sisi Tuhan mereka. (Setelah Nabi Muhammad datang kepada mereka), berkatalah orang-orang kafir (yang merasa heran) itu, “Sesungguhnya (Muhammad) itu tukang sihir yang nyata. (QS. Yunus: 2)

Arti Wahyu

Dikatakan; wahaitu ilaihi dan auhaitu. Kalimat ini digunakan jika tidak ingin orang lain mendengarnya. Wahyu mengandung makna isyarat yang cepat. Itu terjadi biasanya melalui pembicaraan yang berupa simbol, terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat sebagaian anggota badan.

Al-Wahyu (wahyu) adalah kata mashdar (infinitif). Dia menunjuk pada dua pengertian dasar, yaitu; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, dikatakan, “Wahyu ialah informasi secara tersmbunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengeritan dasarnya (mashdar). Tetapi terkadang tanpa juga bermaksud al-muha, yaitu pengertian isim maf’ul, maknanya yang diwahyukan. Secara etimologi (kebahasaan) pengertian wahyu meliputi:

1. Ilham al-fithri li al-insan (ilham yang menjadi fitrah manusia). Seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa,
وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ...
“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia...” (QS. Al Qashash: 7)

2. Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah,
وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ ٦٨
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS. An-Nahl: 68)

3. Isyarat yang cepat melalui isyarat, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan al-Qur’an,
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنَ ٱلۡمِحۡرَابِ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ أَن سَبِّحُواْ بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا ١١
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

Disunnahkan Membaca Basmalah Sebelum Memulai Setiap Pekerjaan

November 09, 2016 Add Comment
Disunnahkan membaca basmalah pada awal setiap ucapan maupun perbuatan. Disunnahkan juga membacanya pada awal khutbah berdasarkan dalil yang ada. Dan juga disunnahkan membacanya sebelum masuk ke kamar kecil (toilet), berdasarkan hadits dalam masalah itu.

Demikian juga sebelum berwudhu’ berdasarkan hadits dalam Musnad al-Imam Ahmad dan juga dalam kitab Sunan dari riwayat Abu Hurairah, Sa’id bin Zaid dan Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhum secara marfu’, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
لَا وُضُوءَ لِمِنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ
“Tidak sempurna wudhu’ bagi orang yang tidak menyebut Nama Allah (mengucapkan basmalah) padanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan lainnya)

Demikian pula disunnahkan membacanya sebelum makan, berdasarkan haidts dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda kepada anak tiri beliau, ‘Umar bin Abi Salamah:
قُلْ بِسْمِ اللهِ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Ucapkanlahh ‘bismillaah’, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat darimu.” (HR. Muslim (III/1600))

Disunnahkan juga membacanya ketika hendak berjima’ (berhubungan badan), berdasarkan hadits dalam  kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
لَوْ أَنَّ أَحَدُكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ جَنِبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَارَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ أَبَدًا.

“Seandainya salah seorang dari kalian hendak mencampuri isterinya ia membaca: ‘Bismillaah, Allaahumma jannibnasy syaithaan wa jannibisy syaithaan ma razaqtana (Dengan menyebut Nama Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami)’, maka jika Allah menakdirkan lahir anak, maka anak itu tidak akan digangggu oleh syaithan selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Materi terkait:

Tafsir dan Terjemah Perkata Surat Al Fatihah Ayat 1

November 08, 2016 Add Comment
Alhamdulillah, insya Allah di blog ini akan diposting ayat-ayat al Qur'an dengan terjemah perkata dan tafsir Ibnu Katsir. Silahkan bagi yang mau memanfaatkan postingan-postingan kami.

Surat Al-Fatihah: 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (Surat Al-Fatihah: 1)

Arti perkata:
بِسْمِ         : dengan nama
ٱللَّهِ          : Allah
ٱلرَّحْمَٰنِ    : Maha Pemurah
ٱلرَّحِيمِ     : Maha Penyayang

Tafsir Ibnu Katsir:

Para Sahabat membuka Kitabullah dengan membacanya. Dan para ulama telah sepakat bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ adalah salah satu dari surat An-Naml. Tetapi mereka berbeda pendapat, apakah basmalah itu merupakan ayat yang berdiri sendiri pada awal surat, atau merupakan bagian dari awal masing-masing surat dan ditulis pada pembukaannya, atau merupakan salah satu ayat dari setiap surat.

Di antara ulama yang menyatakan bahwa basmalah adalah ayat dari setiap surat kecuali surat at-Taubah adalah Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah, dan ‘Ali. Sedangkan dari kalangan Tabi’in adalah ‘Atha’, Thawus, Sa’id bin Jubair, Makhul dan az-Zuhri. Hal yang sama juga dikatakan oleh ‘Abdullah Ibnul Mubarak, Imam asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal (menurut satu riwayat), Ishaq bin Rahawaih, dan Abu ‘Ubaidah al-Qasim bin Sallam rahumahumullah.

Sedangkan Malik dan Abu Hanifah dan orang-orang yang sependapat dengannya mengatakan bahwa basmalah tidak termasuk ayat dari surat Al Fatihah, tidak juga surat-surat yang lain. Dan menurut Dawud, basmalah terletak pada awal setiap surat dan bukan bagian darinya. Demikian pula menurut satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Apakah Basmalah Dibaca Sirr (pelan) atau Dibaca Jahr (keras) Pada Shalat Jahriyah (Shalat Yang Bacaannya Dikeraskan)

Mengenai bacaan basmalah secara jahr (dikeraskan), maka yang berpendapat bahwa basmalah itu bukan termasuk ayat al-Faatihah, ia tidak membacanya secara jahr. Demikian juga yang mengatakan bahwa basmalah adalah satu ayat dari awal al-Faatihah. Adapun mereka yang berpendapat bahwa basmalah merupakan bagian pertama dari setiap surat, dalam hal ini mereka berbeda pendapat. Imam Syafi’i berpendapat bahwa basmalah dibaca secara jahr bersama al-Faatihah dan juga surat-surat lainnya.

Inilah madzhab sekelompok Sahabat, Tabi’in serta para imam, baik Salaf maupun Khalaf. Di antara para Sahabat yang membacanya secara jahr adalah Abu Hanifah, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhum. Ibnu ‘Abdil Barr dan al-Baihaqi meriwayatkan dari ‘Umar dan ‘Ali. Al-Khatib menukilnya dari khalifah yang empat yakni Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, dan riwayat ini gharib. Dan dari Tabi’in di antaranya Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Abu Qilabah, az-Zuhri, ‘Ali bin al-Hasan dan anaknya yakni Muhammad, Sa’id bin al-Musayyab, ‘Atha’, Thawus, Mujahid, Salim, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, Abu Bakar bin Muhammad, Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm, Abu Wa-il, Ibnu Sirin, Muhammad bin al-Munkadir, ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas dan anaknya yakni Muhammad, Nafi’ maula Ibnu ‘Umar, Zaid bin Aslam, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, al-Azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abu asy-Sya’tsa, Mak-hul, dan ‘Abdullah bin Ma’qil bin Muqarin. Al-Baihaqi menambahkan: Abdullah bin Shafwan dan Muhammad bin al-Hanafiyah. Sementara Ibnu ‘Abdil Barr menambahkan: ‘Amr bin Dinar.

Dalil Yang Digunakan Oleh Orang Yang Berpendapat Bahwa Basmalah Harus Dibaca Secara Jahr

Alasannya karena basmalah termasuk bagian dari surat al-Faatihah. Maka ia pun dibaca keras sebagaimana ayat-ayat lainnya. Demikian juga telah diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahiih keduanya, serta al-Hakim dalam al-Mustadrak dari Abu Hurairah bahwasanya ia mengerjakan shalat dan membaca basamalah secara jahr. Setelah selesai ia mengatakan, “Aku telah mempraktekkan shalat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada kalian.” Hadits ini dishahihkan oleh ad-Daruquthni, al-Khatib, al-Baihaqi dan lain-lain.

Perbedaan Antara Hadits Qudsi dengan Hadits Nabawi

November 06, 2016 Add Comment
Hadits nabawi ada dua macam:

1. Tauqifi. Yang bersifat tauqifi, yaitu; kandungannya diterima oleh Rasulullah dari wahyu, lalu ia dijelaskan kepada manusia dengan kata-kata darinya. Di sini, meskipun kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi –dari sisi perkataan– lebih layak dinisbahkan kepada Rasulullah, sebab kata-kata itu disandarkan kepada siapa yang mengatakannya, walaupun terdapat makna yang diterimanya dari pihak lain.

2. Taufiqi. Bagian lain adalah taufiqi. Yang bersifat taufiqi, yiatu; yang disimpulkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, menurut pemahamannya terhadap Al Qur’an, karena fungsi Rasul menjelaskan, menerangkan Al-Qur’an, atau mengambil istimbat dengan perenungan ijtihad. Dalam hal ini, wahyu akan mendiamkannya bila benar. Dan bila terdapat kesalahan di dalamnya, maka wahyu akan turun untuk membetulkannya. Yang pasti taufiqi ini bukan kalam Allah.

Dari sini jelaslah bahwa hadits nabawi dengan kedua bagiannya yang taufiqi dengan ijtihad yang diakui oleh wahyu itu dapat dikatakan bersumber dari wahyu. Inilah esensi dari firman Allah tentang Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam,
“Dia (Muhammad) tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diturunkan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)

Hadits qudsi itu maknanya dari Allah. Hadits ini disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dengan satu cara dari beberapa model pewahyuan, tetapi lafazhnya dari Rasulullah. Inilah pendapat yang kuat. Dinisbatkannya hadits qudsi kepada Allah Ta’ala adalah penisbatan isinya (esensi, penj), bukan penisbatan lafazhnya (redaksi, penj). Sebab seandainya lafazh hadits qudsi itu berasal dari Allah, maka tentu tidak berbeda dengan Al-Qur’an; gaya bahasanya pun akan menantang, juga yang membacanya dianggap ibadah.

Tentang hal ini muncul dua syubhat:

Pertama; Hadits nabawi ini secara maknawi juga wahyu, lafazh pun dari Rasulullah, tetapi mengapa tidak kita namakan juga sebagai hadits qudsi?

Perbedaan Antara Al Qur'an dan Hadits Qudsi

Oktober 29, 2016 Add Comment
Definisi Al-Qur’an telah dikemukakan pada postingan sebelumnya. Untuk mengetahui perbedaan antara definisi Al-Qur’an, hadits qudsi dan hadits nabawi, maka di sisi akan disampaikan dua definisi hadits tersebut:

Hadits secara bahasa bermakna, “Dhiddu al-qadim” (lawan dari lama –atau baru–). Yang dimaksud dengan hadits secara umum adalah setiap kata-kata yang diucapkan dan dinukil serta disampaikan oleh manusia, baik kata-kata itu diperoleh melalui pendengaran atau wahyu ketika dalam keadaan terjaga atapun tidur. Dalam pengertian ini, Al-Qur’an juga disebut hadits:
...وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثٗا ٨٧
“...Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (hadits)nya dari pada Allah.” (QS. An-Nisa: 87)
Demikian juga apa yang terjadi pada seseorang ketika tidurnya:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil hadits-hadits (mimpi). (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)

Adapun secara istilah, hadits adalah apa saja yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan Nabi terhadap suatu perbuatan atau ucapan yang datang dari sahabatnya, red) atau sifat.
Jika kita mendengar kata hadits dalam perbincangan kita, maka yang dimaksud adalah hadits secar istilah.

Contoh hadits yang berupa perkataan (al-qaul), seperti sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى   ...
“Sesungguhnya sahnya amal itu, apabila disertai dengan niat. Dan, setiap (perbuatan) seseorang itu tergantung pada apa yang diniatkannya...” (HR. Al-Bukhari)

Contoh hadits yang berupa perbuatan (al-fi’l), ialah seperti yang beliau ajarkan kepada para sahabat tentang tata cara shalat, “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari)
Juga mengenai tata cara ibadah haji. Beliau bersabda, “Ambillah dariku manasik hajimu.” (HR. Muslim, Ahmad dan Nasa’i)

Sedangkan contoh yang berupa persetujuan (taqrir) ialah seperti beliau menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang sahabat, baik perkataan ataupun perbuatan, dilakukan di hadapannya ataupun tidak. Misalnya, mengenai makan biawak yang dihidangkan kepadanya. Bentuk lain dari taqrirnya seperti; dalam sebuah riwayat, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, mengutus orang dalam suatu peperangan. Orang itu selalu membaca suatu bacaan dalam shalat yang diakhiri dengan qul huwallahu ahad. Setelah pulang, mereka menyampaikan hal itu kepada Nabi. Lalu kata Nabi, “Tanyakan kepadanya mengapa dia berbuat demikian!” Mereka pun menanyakannya. Dan oran itu menjawab; Kalimat itu adalah sifat Allah dan kau suka membacanya. Maka jawab Nab, “Katakanlah kepadanya bahwa Allah pun menyukainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Adapun contoh hadits yang berbentuk sifat (ash-shifah), seperti yang diriwayatkan “Bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam itu selalu bermuka cerah berperangai halus dan lembut, tidak keras dan tidak pula kasar, tidak suka berteriak keras, tidak pula berbicara kotor dan tidak suka mencela..”

Hadits Qudsi

Kita telah mengetahui makna hadits secara bahasa. Sekarang kita akan membicarakan tentang hadits qudsi. Kata qudsi dinisbatkan kepada kata quds (kesucian). Nisbah ini menunjukkan rasa ta’zhim (hormat akan kebesaran dan kesuciannya), oleh karena kata itu sendiri menunjukkan kebersihan dan kesucian secara bahasa. Maka kata taqdis berarti mensucikan Allah. Taqdis sama dengan tathhir; dan taqaddasa sama dengan tathahhara (suci, bersih). Seperti; kata-kata malaikat kepada Allah dalam suatu dialog yang dilukiskan Al-Qur’an:
... وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ ... ٣٠
“...Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau...” (QS. Al Baqarah: 30)

Hadits Qudsi secara istilah ialah suatu hadits yang oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, disandarkan kepada Allah. Maksudnya, Nabi meriwayatkan dalam posisi bahwa yang disampaikannya adalah kalam Allah. Jadi, Nabi itu adalah orang yang meriwayatkan kalam Allah, tetapi redaksi dan lafazhnya dari Nabi sendiri. Jika seseorang meriwayatkan satu hadits qudsi, dia berarti meriwayatkan dari Rasulullah yang dinisbatkan kepada Allah. Apabila ada orang yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah, berarti dia menyandarkannya kepada Allah. Maka, hendaknya orang itu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda sebagaimana yang dia riwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla.

Atau, bisa juga dia mengatakan, “Rasulullah mengatakan mengenai apa yang diriwayatkan dari Tuhannya”, atau ia mengatakan:
“Rasulullah bersabda; Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman atau berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala: