Loading...
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan

TAFSIR SURAT AN-NAHL AYAT 90

November 29, 2017 Add Comment
 
TAFSIR SURAT AN-NAHL AYAT 90
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (٩٠)
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Tafsir Ibnu Katsir:
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Dia memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu bersikap adil dan memotivasi mereka untuk berbuat baik, seperti firman-Nya:
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ (١٢٦)
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama atas siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. An-Nahl: 126)

Dan firman-Nya,
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (٤٠)
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syuraa: 40)

Dan firman-Nya lagi,
وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ
“..Dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya..” (QS. Al-Maidah: 45). Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk bersikap adil dan memotivasi untuk berbuat baik.

Dan firman-Nya: وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى “..Dan memberi kepada kaum kerabat..” maksudnya adalah Allah memerintahkan untuk menjalin silaturrahim. Seperti dalam al Qur’an surat al-Isra’: 26.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran”. Lafazh الْفَحْشَاءِ artinya hal-hal yang diharamkan (baik yang dilakukan secara tersembunyi maupun terang-terangan). Sedangkan الْمُنْكَرadalah perbuatan haram yang dilakukan secara terang-terangan. Karena itu Allah berfirman pada surat lain:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi..” (QS. Al-A’raf: 33)

Sedangkan الْبَغْيُ (al baghyu) maknanya ialah permusuhan terhadap orang lain. Dalam sebuah hadits disebutkan:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ عُقُوبَتَهُ فِي الدُّنْيَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لِصَاحِبِهِ فِيْ الأَخِرَةِ، مِنَ الْبَغِيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ.
“Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan siksaannya di dunia, disamping adzab yang disimpan untuk pelakunya di akhirat, kecuali permusuhan (kezhaliman) terhadap orang lain dan memutuskan ikatan silaturahim.” (HR. Abu Dawud)


Firman Allah, يَعِظُكُمْ “Dia memberi pengajaran kepada kalian.” Maksudnya, Allah memerintahkan kalian untuk selalu berbuat baik dan melarang kalian dari perbuatan jahat, لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Agar kalian dapat mengambil pelajaran.”

Musyawarah Dalam Perspektif Islam

Juli 09, 2017 Add Comment

Pengertian Musyawarah

Akar kata musyawarah yang sudah menjadi bahasa Indonesia adalah syura yang berarti menampakan sesuatu atau mengeluarkan madu dari sarang lebah. Musyawarah bararti menampakan sesuatu yang semula tersimpan atau mengeluarkan pendapat yang baik kepada pihak lain.

Syura berasal dari kata syawwara - yusyawwiru yang berarti menjelaskan, menyatakan atau mengajukan dan mengambil sesuatu, bentuk lain dari kata kerja ini adalah asyara (memberi isyarat), tasyawara, (berunding saling tukar pendapat), Syawir (minta pendapat) musyawarah dan mustasyir (minta pendapat orang lain). Jadi Syura adalah menjelaskan, menyatakan atau mengajukan pendapat  yang baik, disertai dengan menaggapi dengan baik pula  pendapat tersebut.

Musyawarah menurut bahasa berarti "berunding" dan "berembuk", sedangkan Pengertian musyarawarah menurut istilah adalah perundingan bersama antara dua orang atau lebih untuk mendapatkan keputusan yang terbaik.

Musyawarah ialah suatu proses kunsultasi secara Islam di antara mereka yang mengetahui masalah-masalah yang dibicarakan, dan paling baik diperoleh melalui diskusi di antara mereka yang menyadari situasi yang dihadapi. Musyawarah ialah salah satu prinsip organisasi pelembagaan yang terpenting dalam Islam.

Al-Qur’an memerintahkan pemimpin Islam agar mengatur permasalahan umatnya melalui perundingan di antara mereka. Hal ini mendorong mereka mengeluarkan pendapat secara terbuka dan jujur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159)

Tafsir Ibnu Katsir:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ “Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam selalu bermusyawarah dengan apra Shahabatnya dalam memutuskan masalah yang terjadi di antara mereka. Hal ini bertujuan agar hati mereka senang dan lebih bersemangat dalam melakukannya. Nabi mengajak mereka bermusyawarah pada perang Badar untuk memutuskan keberangkatan mereka guna menghadang pasukan orang-orang kafir. Para shahabat pun berkata, “Ya Rasulullah, seandainya engkau menyeberangi lautan, niscaya kami akan turut bersamamu. Dan andaikan engkau memerintahkan kami untuk pergi ke Barkil Ghimad (ujung negeri Yaman), kami pasti akan berjalan bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti yang dikatakan kaum Nabi Musa kepadanya: ‘Berangkatlah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah, kami akan duduk-duduk di sini saja.’ Tetapi kami katakan kepadamu: ‘Berangkatlah! Kami selalu bersamamu, di depan, di kanan dan kirimu untuk ikut berperang.’”

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun mengajak mereka bermusyawarah untuk memutuskan di mana harus berkemah, sehingga al-Mundzir bin ‘Amr (yang dijuluki dengan) al-mu’niq liyamut (orang yang bersegera menyongsong kematiannya) menyarakannya untuk berkemah di hadapan musuh.

Menjelang perang Uhud, beliau pun bermusyawarah untuk memutuskan apakah akan tetap bertahan di Madinah atau pergi menyongsong musuh. Ternyata sebagian besar Sahabat menyarankan untuk pergi menyongsong musuh. Maka beliau pun bersama mereka menghadapi musuh.

Demikian juga pada perang Khandaq, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengajak para Sahabat untuk memusyawarahkan tawaran perdamaian kepada al-Ahzab (Yakni orang-orang Quraisy bersama sekutu-sekutunya, yakni bani Asad, Asyja’, Fauzarah, Murrah, Kinanah, Sulaim, dan bani Ghathfan)

Dalam kisah ifki (tuduhan zina yang dilancarkan orang-orang munafik terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) beliau berkata:
أَشِيْرُوا عَلَيَّ مَعْشَرَ المُسْلِمِيْنَ فِي قَوْمِ أَبَنُوا أَهْلِي وَرَمَوْهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَعَمِلْتُ عَلَى أَهْلِي مِنْ سُوءٍ وَأَبَنُوهُمْ بِمَنْ؟ وَاللهِ مَاعَمِلْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا
“Berilah  aku saran wahai sekalian kaum muslimin tentang orang-orang yang menuduh keluargaku dan memfitnahnya. Demi Allah, aku tidak mengetahui keburukan pada keluargaku. Mereka telah memfitnahnya dengan seseorang, yang demi Allah, aku tidak mengetahui tentang dirinya kecuali orang yang baik.” (HR. Al-Bukhari [4757])

Beliau bermusyawarah dengan ‘Ali dan Usamah tentang (rancana) perceraian dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (dan beliau tidak sampai menceraikannya –pent-). Beliau biasa bermusyawarah dengan para Shahabat tentang masalah peperangan dan masalah lainnya.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bawa beliau bersabda:
الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ
“Orang yang diajak bermusyawarah itu haruslah orang yang dipercaya.” (HR. Ibnu Majah, shahih)


Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمۡرُهُمۡ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣٨
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Ar-Ra’du: 38)

Sunnah Rasul penuh dengan contoh-contoh perundingan yang dilakukan beliau dengan para shahabatnya. Abu Hurairah menegaskan perkara ini dengan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang lain yang lebih banyak meminta pandangan kepada para pengiktunya, melainkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Rasulullah meminta pendapat kepada para sahabatnya dalam masalah-masalah keduniaan, dan hanya meninggalkan metode ini apabila beliau menerima wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 MIZAR

Inilah Penjelasan Arti "Illiyyin", Tafsir Surat Al-Muthaffifin ayat 18-21

Juni 26, 2017 Add Comment


Tafsir Surat Al-Muthaffifin ayat 18-21 (Arti ‘Illiyyin)


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡأَبۡرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ   كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ   يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ´Illiyyin. Tahukah kamu apakah ´Illiyyin itu. (Yaitu) kitab yang bertulis. Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)” (QS. Al-Muthaffifin: 18-21)


Tafsir Ibnu Katsir

Catatan Balasan Amal Bagi Orang-orang Yang Berbakti

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡأَبۡرَارِ “Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti” –dan mereka berbeda dengan orang-orang yang durhaka– لَفِي عِلِّيِّينَ “Benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyiin.” Yakni, tempat kembali mereka adalah ‘Illiyyiin, dan tempat ini berbeda dengan Sijjiin.

Diriwayatkan dari Hilal bin Yasaf, ia berkata, “Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepada Ka’ab tentang Sijjiin, sedangkan aku hadir ketika itu. Maka Ka’ab menjawab, ‘Sijjiin yaitu bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh-ruh orang kafir.”

Lalu Ibnu ‘Abbas bertanya tentang ‘Illiyyiin. Maka Ka’ab menjawab, “Illiyyiin yaitu langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh-ruh orang-orang yang beriman.” Demikian juga pendapat yang lainnya, bahwa ‘Illiyyiin itu di langit ketujuh.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman-Nya,  
كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡأَبۡرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyiin.” Yakni, di Surga. Ulama tafsir lainnya berkata, ‘Illiyyuun itu ada di Sidratil Muntaha.” Yang jelas, kata ‘illiyyiin diambil dari kata العُلُوٌّ (tinggi, agung dan lapang).

Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala membesar-besarkan dan membangga-banggakan perkara ‘Illiyyuun, dengan firman-Nya, وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ “Dan tahukah engkau apakah ‘Illiyyiin itu?” Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman untuk menegaskan isi catatan mereka, كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ   يَشۡهَدُهُ ٱلۡمُقَرَّبُونَ “(Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal). Yang disaksikan oleh yang didekatkan (kepada Allah).” Yaitu para Malaikat. Demikianlah pendapat Qatadah. Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Yakni, disaksikan oleh para Malaikat yang didekatkan pada setiap langit.”


Tahukah Anda Apa Itu "Sijjin"? Tafsir Surat Al-Muthaffifin Ayat 7-9

Juni 26, 2017 Add Comment


Tafsir Surah Al-Muthaffifin Ayat 7-9

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٖ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ  كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu. (Ialah) kitab yang bertulis” (QS. Al-Muthaffifin: 7-9)


Tafsir Ibnu Katsir:

Allah berfirman, “Sesungguhnya, catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjiin,”  Yakni tempat kembali dan berpulang mereka ke sijjin. Kata sijjin merupakan wazan  فِعْلٌ dari kata السِّجْنُ yaitu kesempitan.

Karena itu Allah mengagungkan perkaranya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (mempertanyakannya), “Dan tahukah engkau apakah sijjin itu?” Yakni, sijjin itu perkara yang besar, penjara yang permanen dan adzab yang pedih. Kemudian ada ulama yang mengatakan bahwa sijjin itu berada di bawah bumi ketujuh. Dan telah disebutkan dalam hadits yang panjang dari riwayat al-Bara’ bin ‘Azib bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ruh orang kafir, “Tulislah catatan amalnya dalam sijjin!” Dan sijjin berada di bawah bumi ketujuh.

Tempat kembali orang-orang durhaka ialah di Neraka Jahannam, yaitu tempat yang paling rendah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengajarkan kebijakan.” (QS. At-Tiin: 5-6)

Dan dalam ayat di atas Allah berfirman,
“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjiin. Dan tahukah engkau apakah sijjiin itu?” Tempat ini menggabung antara kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di Neraka dengan dibelanggu, mereka di sana  berteriak mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)

Selanjutnya, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, كِتَٰبٞ مَّرۡقُومٞ -kitaabun marqum- “(Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal).” Ayat ini bukan sebagai tafsir dari ayat,  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سِجِّينٞ   ”Dan tahukah engkau apakah sijjiin itu?” Akan tetapi sebagai tafsir dari tempat kembali yang telah ditetapkan untuk mereka ke dalam sijjin. Yakni, berisi catatan amal, tertulis secara lengkap, telah dirampungkan tanpa dilebih-lebihkan dan tanpa dikurangi sedikit pun. Demikianlah pendapat yang dikemukakan oleh Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi.


Tafsir Surat At-Tahrim Ayat 6 “Jagalah Diri dan Keluargamu Dari Api Neraka”

Tafsir Surat At-Tahrim Ayat 6 “Jagalah Diri dan Keluargamu Dari Api Neraka”

Mei 04, 2017 Add Comment

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6)

Tafsir Ibnu Katsir:
Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Firman-Nya; قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا ”jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, yakni ajarilah mereka untuk taat kepada-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Dan perintahkanlah kepada keluarga kalian untuk berdzikir agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan mereka dari api neraka.

Muhajahid rahimahullah berkata, “Firman-Nya; “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” , yakni bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berwasiatlah kepada keluarga kalian agar bertakwa kepada-Nya.”

Sementara itu Qatadah rahimahullah berkata, “Hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka untuk bermaksiat kepada-Nya. Hendaklah engkau menjalankan hukum Allah mereka, serta memerintahkan dan membantu mereka untuk melaksanakannya. Apabila engkau melihat mereka bermaksiat kapada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka peringatkan dan laranglah mereka.”

Demikian pula yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan Muqatil, “Merupakan kewajiban seorang Muslim untuk mengajari istrinya, kerabatanya, budak perempuan dan laki-lakinya, apa-apa yang diwajibkan dan dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka.”

Ayat di atas semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Ar-Rabi’ bin Sabrah, dari bapaknya, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda:
مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ، فَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَضْرِبُوهُ عَلَيْهَا
“Perintahkanlah anak kecil untuk shalat jika telah berumur tujuh tahun. Apabila ia telah berumur sepuluh tahun, perintahlah mereka dengan pukulan.” Ini adalah lafazh Abu Dawud, dan At-Tirmidzi berkata, ‘Ini adalah hadits hasan.’” 



Tafsir QS. Surat Ar-Rum Ayat 21 “Allah Menciptakan Pasangan Untuk Tujuan Sakinah, Mawaddah dan Rahmah”

Mei 04, 2017 1 Comment

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٢١
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)

Tafsir Ibnu Katsir:
Maksudnya, Allah meciptakan dari jenis kalian wanita sebagai pasangan hidup bagi kalian, لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

Ayat ini memiliki makna yang sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
۞هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِيَسۡكُنَ إِلَيۡهَاۖ..  
“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya." (QS. Al-A’raf: 189)

Yang dimaksud dengan pasangannya adalah Hawa. Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk sebelah kiri Adam yang pendek.

Seandainya Allah menjadikan semua manusia berjenis kelamin laki-laki dan menjadikan wanitanya jenis lain seperti jin atau hewan, niscaya tidak keserasian dan kesesuaian di antara pasangan-pasangan itu.

Bahkan bila masing-masing pasangan itu berlainan jenis, niscaya akan lahir rasa gamang dan takut.

Selanjutnya, di antara kesempurnaan kasih sayang Allah terhadap manusia adalah bahwa Allah menjadikan pasangan mereka dari jenis mereka sendiri. Allah menciptakan pada masing-masing pasangan itu rasa cinta dan kasih sayang.

Karena tidaklah seorang laki-laki mempersunting seorang wanita terkecuali karena:
1) Rasa cinta dan kasih sayang yang terbukti dengan lahirnya anak dari rahim istrinya.
2) Sang isteri membutuhkan nafkah darinya.
3) Ingin menciptakan rasa cinta di antara mereka berdua, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, Allah befirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”


Artikel terkait: