Loading...
Tampilkan postingan dengan label SYUBHAT-SYUBHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYUBHAT-SYUBHAT. Tampilkan semua postingan

KESESATAN HASMI

Mei 07, 2017 3 Comments

HASMI adalah salah satu ormas Islam yang cukup eksis di Indonesia. HASMI merupakan singkatan dari Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami.

Menurut informasi yang saya dapet dari buku-buku HASMI dan beberapa situs website, HASMI memiliki visi membentuk masyarakat Islami di Indonesia. 

Ormas ini berpusat di Bogor di bawah pimpinan Dr. M. Sarbini, M.H.I. Untuk mengetahui lebih detil alamatnya, silahkan kunjungi: Alamat HASMI Pusat.

Sebagian kelompok yang tidak senang dengan perkembangan dakwah HASMI, menuduh HASMI sebagai aliran sesat dan ahlul bid’ah. Mereka berusaha memalingkan umat dari dakwah sunnah di dalam HASMI. Mereka terus menyebarkan (tuduhan fitnah) Kesesatan HASMI.

Tidak lain dan tidak bukan faktor hasad-lah yang melatarbelakangi semua tuduhan tersebut. Mereka tidak ingin mendapat saingan dalam dakwahnya karena khawatir jama’ahnya berpindah ke tempat lain.


BENARKAH HASMI SESAT??

Tuduhan tersebut tidak benar! Sama sekali tidak benar! Mari kita simak penjelasan singkat berikut ini:

Dasar keseluruhan HASMI adalah manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Manhaj wahyu Ilahi, al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti pemahaman dan penerapan Salafushshalih.

Kalau kita menelaah buku-buku yang ditulis oleh tim HASMI, seperti buku yang berjudul SIROTULMUSTAQIM, kita akan mendapati bahwa HASMI adalah organisasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam buku tersebut jelas sekali disebutkan tentang Rambu-rambu Sirotulmustaqim (Prinsip-prinsip Paling Dasar Pada Ahlussunnah), di antaranya:
1. Tauhidullah (Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala).
2. Ittiba’ (Mengikuti Rasulullah dalam Memahami Islam dan Menerapkannya).
3. Sumber Hukum; Al-Qur’an dan Sunnah.
4. Metode Pemahaman Yang Benar (Pemahaman Para Shahabat Nabi).

Keempat poin di atas dijelaskan dengan dali-dalil yang sangat gamblang dari Al-Qur’an, Sunnah dan atsar para shahabat serta salafushshalih lainnya.

Siapa pun yang membaca buku-buku HASMI, ia akan meyakini bahwa HASMI bukan kelompok sesat seperti yang dituduhkan oleh sebagian kelompok lain. Jadi jangan percaya dengan mereka!

Kalau Anda masih penasaran, silahkan dapatkan buku SIROTULMUSTAQIM di HASMI Pusat atau di HASMI Wilayah yang dekat dengan Anda. Atau silahkan Anda buka di BUKU SIROTULMUSTAQIM bab VIII halaman 55. Atau Anda dapat mengikuti kajian-kajian HASMI secara langsung. Atau menyimak kajian-kajian HASMI di saluran Youtube Fajri Channel atau HASMI Media Pusat atau di web resmi HASMI: www.hasmi.org  

Tujuan HASMI adalah terwujudnya kebangkitan total melalui usaha perwujudan ruhani yang bermahkotakan “Berdirinya Masyarakat Islami di Indonesia”. Yaitu masyarakat yang secara kolektif atau perorangan dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam yang suci.

Dalam mewujudkan kebangkitan sejati, HASMI memilih strategi dakwah dan menolak strategi tampuk kekuasaan, baik strategi kekerasan maupun parlemen. Karena di negeri Indonesia peluang dakwah masih sangat terbuka lebar. (Kunjungi: Alasan HASMI MenolakStrategi Tampuk Kekuasaan)

Semoga menjadi setitik cahaya buat saudara-saudaraku yang ingin mengenal HASMI dari sumber yang benar. Jangan mengenal seseorang dari musuhnya, karena ia tidak akan jujur tentang dia. Kenalilah mereka dari orang-orang yang mencintainya, atau dari dirinya langsung. 

Artikel Terkait:
JAWABAN SYUBHAT BID'AH ORGANISASI

JAWABAN SYUBHAT BID'AH ORGANISASI

Maret 24, 2017 Add Comment
Amal Jama’i Dalam Berda`wah (Jama’iyyah Da`wah/ Organisasi Dakwah)

Ada sebagian orang atau kelompok yang alergi dengan amal jama’i (baca: organisasi). Mereka mengatakan bahwa oraganisasi adalah bid’ah yang harus dijauhkan dari umat Islam. Bahkan mereka menuduh para aktivis Islam yang tergabung dalam suatu organisasi Islam sebagai ahlul bid’ah.

Benarkah tuduhan mereka? Mari kita simak pembahasannya berikut ini:

Untuk memperdalam kesadaran akan pentingnya beramal Jama’i dalam berda`wah, mari kita renungkan hal-hal di bawah ini:

1.  Kalau kita tinjau tujuan-tujuan da`wah dan sarana-sarana yang kita perlukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, jelaslah bahwa akal manusia yang sehat, tidak bisa menerima sama sekali bahwa hal-hal tersebut bisa terwujudkan tanpa amal jama’i, akal pun mengharuskan beramal jama’i. Ketika akal mengharuskan sesuatu, kita harus mengikutinya selama syari’ah tidak melarangnya dan selama syari’ah tidak menunjukkan jalan lain selain yang diharuskan oleh akal.

Kita bukanlah aqlaniyyun (kaum rasionalis) yang mengikuti akal walau pun bertentangan dengan syari’at. Kita bukanlah mereka yang mencampakkan syari’at ketika ada produk-produk akal yang bertentangan dengan syari’ah. Kita adalah Ahlus sunnah wal jama’ah, pengikut Rosulullah Shallallohu `Alaihi wa Sallam, Al-Qur’an, Hadits dan Manhaj Salafus Soleh.

NEO MURJI'AH

Februari 13, 2017 1 Comment
Mukadimah
Jika kita perhatikan tulisan-tulisan, diskusi, seminar bahkan wawancara yang dilakukan terhadap sebagian aktifis Islam pada saat ini, kita akan mendapatkan seolah-olah sekte sesat yang diblacklist oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah hilang kecuali Khawarij. Bagi mereka seolah-olah bumi ini telah bersih dari orang-orang kafir, murtad, zindiq, sekuler dan yang tersisa hanyalah kesesatan Khawarij. Dalam halusinasi mereka seolah-olah Khawarij ini sedang bangkit kembali untuk meraih Khalifah Rasyidah!

Tafsir Ali Imran: 103 -Perintah Berjama'ah-

Februari 12, 2017 Add Comment
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
  
“Dan berpegang teguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai..” (QS. Al-Imron: 103).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan maksud dari “tali (agama) Allah” di ayat ini dengan Al-Qur’an. Beliau radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ، وَهُوَ النُّورُ الْبَيِّنُ وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ، عِصْمَةٌ لِمَنِ اعْتَصَمَ بِه...
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali (agama) Allah. Dia adalah cahaya (petunjuk) yang terang benderang dan obat penawar yang bermanfaat. Ia adalah pelindung bagi yang berpegang teguh kepadanya…” (HR. Ad-Darimi).

Allah Subhanahu wa Ta’ala di ayat yang mulia ini memerintahkan kaum mukminin agar berpegang teguh kepada petunjuk Allah, yakni Al-Qur’an dan melarang mereka dari perpecahan.

Dengan kata lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum mukminin agar berjama’ah dan bersatu serta menjadikan wahyu-Nya sebagai landasan persatuan tersebut agar mereka tidak tersesat dari jalan hidayah-Nya, yang akan menyebabkan mereka terpecah belah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memerintahkan kaum mukminin agar berjama’ah dan bersatu tidak lain karena ada banyak manfaat dan kebaikan di dalamnya.

Dengan berjama’ah, Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menguatkan hati-hati kaum mukminin dan menyatukannya. Sebagaimana hal tersebut telah Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, dimana dalam sebuah firman-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala ungkapkan hal tersebut,

ARGUMEN AKSI DEMONSTARI

Januari 22, 2017 Add Comment
Ada orang berusaha melemahkan istidlal dengan hadits tujuh puluh sahabiyyah yang mengadukan suami mereka kepada Nabi dengan alasan haditsnya mursal.

Saya jawab, hadits ini ternyata tidak mursal karena terbukti bahwa Iyas bin Abdullah bin Abi Dzubab adalah shahabi sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hatim dan Abu Zur'ah. Bahkan dikuatkan lagi oleh riwayat Ummu Kultsum yang mursal sehingga hadits ini menjadi shahih.

Kedua, dia katakan bahwa ini qiyas tidak tepat karena yang terjadi kala itu adalah demo tanpa koordinasi, sedangkan yang sekarang ada koordinasi.

Komentar saya, kalau yang tanpa koordinasi atau spontan saja boleh maka yang terkoordinasi, ada korlapnya, ada pemberitahuan ke aparat dan sebagainya tentu lebih boleh lagi. Justru ini adalah mafhum muwafaqahnya. Maka orang itu perlu belajar lagi menggunakan qiyas.

Bicara masalah demonstrasi haruslah dalam tinjauan tashili (mendasar), dibahas berdasarkan qawa'id ushul dan fiqh yang ada.

Kalau dituduh demonstrasi tak pernah ada dalam sejarah Islam maka orang itu perlu piknik lagi ke buku-buku sejarah.

Demonstrasi besar pernah dilakukan para fuqaha Hanbaliyyah dan Syafi'iyyah yang dipimpin oleh Abu Ishaq Asy-Syirazi di Bagdad menuntut ditutupnya tempat maksiat.

Di tahun yang sama juga terjadi demo besar menuntut ditangkapnya penghina sahabat yang dibekingi seorang kepala polisi di Bagdad. Itu di abad keempat hijriyyah yang direkam oleh Ibnu Al-Jauzi dalam kitab Al Muntazham fii Tarikh Al Muluk wa Al Umam vol. 16 hal. 139

Juga demo besar yang dipimpin oleh Ibnu Taimiyah untuk menangkap penghina Nabi yang karena itulah dia menulis buku pertamanya, Ash-Sharim Al Maslul 'Ala Syatimir-Rasul [Pedang Terhunus Atas Pencaci Rasulullah].

Itu kalau bicara sejarah, belum lagi bicara fikihnya. Kalaupun dia mengakibatkan dampak negatif, maka harus dilakukan pemeriksaan illat dan tahqiq al manath, bagaimana kalau illatnya hilang.

Kalau begitu keadaannya berarti dia pada dasarnya mubah dan bisa berubah hukum sesuai perubahan dampak.

Juga ada hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasaiy dalam al kubra, Al Baihaqi juga dalam al kubra serta Ath-Thabari dalam Tahdzib Al-Atsar:
أخبرنا قتيبة بن سعيد قال نا سفيان عن الزهري عن عبد الله بن عبد الله بن عمر عن إياس بن عبد الله بن أبي ذباب قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا تضربوا إماء الله فجاءه عمر فقال قد ذئر النساء على أزواجهن فأذن لهم فضربوهن فطاف بآل رسول الله صلى الله عليه و سلم نساء كثير فقال النبي صلى الله عليه و سلم لقد طاف بآل محمد صلى الله عليه و سلم الليلة سبعون امرأة كلهم يشتكين أزواجهن ولا تجد أولئكم خياركم
Dari Iyas bin Abdullah bin Abi Dzubab yang berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Jangan kalian memukul para hamba wanita Allah.
Maka datanglah Umar mengadukan kelancangan para istri kepada suami sehingga Rasulullah mengizinkan untuk memukul. Lalu datanglah para wanita beramai-ramai di rumah Nabi hingga akhirnya beliau berasbda, "Malam ini telah berkerumun 70 orang wanita di rumah keluarga Muhammad mengadukan tindakan suami mereka. Sesungguhnya para suami itu bukanlah orang terbaik diantara kalian."