Loading...
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
INILAH JAWABAN, MENGAPA PARA ULAMA MEMBAGI TAUHID MENJADI TIGA?
Akidah Manhaj
Sebelum adanya pembagian tauhid oleh para ulama, pada mulanya tidak disebutkan pembagian tauhid dalam beberapa bagian. Karena kaum Muslimin pada zaman itu sudah sangat mengerti makna dan hakikat tauhid sehingga penjelasan tentang pembagiannya belum diperlukan.
Kemudian muncul pembagian tauhid menjadi dua:
JAWABAN SYUBHAT BID'AH ORGANISASI
Manhaj SYUBHAT-SYUBHAT
Amal Jama’i Dalam Berda`wah
(Jama’iyyah Da`wah/ Organisasi
Dakwah)
Ada sebagian orang atau kelompok
yang alergi dengan amal jama’i (baca: organisasi). Mereka mengatakan bahwa oraganisasi
adalah bid’ah yang harus dijauhkan dari umat Islam. Bahkan mereka menuduh para
aktivis Islam yang tergabung dalam suatu organisasi Islam sebagai ahlul bid’ah.
Benarkah tuduhan mereka? Mari
kita simak pembahasannya berikut ini:
Untuk memperdalam kesadaran
akan pentingnya beramal Jama’i dalam berda`wah, mari kita
renungkan hal-hal di bawah ini:
1.
Kalau kita tinjau tujuan-tujuan da`wah dan sarana-sarana
yang kita perlukan untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut, jelaslah bahwa akal manusia yang sehat, tidak bisa
menerima sama sekali bahwa hal-hal tersebut bisa terwujudkan
tanpa amal jama’i, akal pun mengharuskan beramal jama’i.
Ketika akal mengharuskan sesuatu, kita harus mengikutinya selama syari’ah tidak melarangnya dan selama
syari’ah tidak menunjukkan jalan lain
selain yang diharuskan oleh akal.
Kita bukanlah aqlaniyyun
(kaum rasionalis) yang mengikuti akal walau pun bertentangan dengan syari’at. Kita bukanlah mereka
yang mencampakkan syari’at ketika ada
produk-produk akal yang bertentangan dengan syari’ah. Kita adalah Ahlus sunnah
wal jama’ah, pengikut Rosulullah Shallallohu `Alaihi
wa Sallam, Al-Qur’an, Hadits dan
Manhaj Salafus Soleh.
Silsilah Tarbiyah HASMI "Terpecah Yang Benar Hanya Satu"
Akidah Manhaj SILSILAH TARBIYYAH HASMI
BAB
I
YANG BENAR HANYALAH ISLAM
Untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu wa
Ta’ala dan untuk mencapai keridoan-Nya, Alloh Subhanahu wa
Ta’ala hanya menurunkan satu agama kepada
hamba-hamba-Nya, sejak awal
penciptaan manusia hingga hari kiamat kelak, yaitu agama Islam. Seluruh nabi,
dari Nabi Adam ‘alayhissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu
‘alayhi wa sallam, hanya membawa dan mendakwahkan agama Islam. Itulah sirotulmustaqim.
إِنَّ
ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ ...١٩
“Sesungguhnya agama
(yang diridoi) di sisi Alloh hanyalah Islam.” (QS. ali ‘Imron [3]: 19)
NEO MURJI'AH
Manhaj SYUBHAT-SYUBHAT
Mukadimah
Jika kita
perhatikan tulisan-tulisan, diskusi, seminar bahkan wawancara yang dilakukan
terhadap sebagian aktifis Islam pada saat ini, kita akan mendapatkan
seolah-olah sekte sesat yang diblacklist oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi
wa sallam telah hilang kecuali Khawarij. Bagi mereka seolah-olah bumi ini
telah bersih dari orang-orang kafir, murtad, zindiq, sekuler dan yang tersisa
hanyalah kesesatan Khawarij. Dalam halusinasi mereka seolah-olah Khawarij ini
sedang bangkit kembali untuk meraih Khalifah Rasyidah!
Tafsir Ali Imran: 103 -Perintah Berjama'ah-
HASMI Manhaj MOTIVASI ISLAMI SYUBHAT-SYUBHAT
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan berpegang
teguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai
berai..” (QS. Al-Imron: 103).
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu menafsirkan maksud dari “tali (agama) Allah” di ayat ini dengan
Al-Qur’an. Beliau radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan
sebuah hadits yang berbunyi:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ هُوَ
حَبْلُ اللَّهِ، وَهُوَ النُّورُ الْبَيِّنُ وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ، عِصْمَةٌ لِمَنِ
اعْتَصَمَ بِه...
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini
adalah tali (agama) Allah. Dia adalah cahaya (petunjuk) yang terang benderang
dan obat penawar yang bermanfaat. Ia adalah pelindung bagi yang berpegang teguh
kepadanya…” (HR. Ad-Darimi).
Allah Subhanahu wa Ta’ala di ayat yang mulia ini memerintahkan
kaum mukminin agar berpegang teguh kepada petunjuk Allah, yakni Al-Qur’an dan
melarang mereka dari perpecahan.
Dengan kata lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum
mukminin agar berjama’ah dan bersatu serta menjadikan wahyu-Nya sebagai
landasan persatuan tersebut agar mereka tidak tersesat dari jalan hidayah-Nya,
yang akan menyebabkan mereka terpecah belah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memerintahkan kaum mukminin agar
berjama’ah dan bersatu tidak lain karena ada banyak manfaat dan kebaikan di
dalamnya.
Dengan berjama’ah, Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menguatkan
hati-hati kaum mukminin dan menyatukannya. Sebagaimana hal tersebut telah Allah
Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi
wa sallam, dimana dalam sebuah firman-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala
ungkapkan hal tersebut,
Langganan:
Postingan (Atom)



