NABI DIRUNDUNG KESEDIHAN "WAHYU MENGALAMI MASA VAKUM"

Februari 01, 2014
            Mengenai masa vakum (terputusnya wahyu untuk sementara) ini, menurut riwayat Ibnu Sa’d dari Ibnu Abbas terdapat informasi bahwa ia hanya berlangsung selama beberapa hari. Pendapat inilah yang kuat bahkan dapat dipastikan, setelah mengadakan penelitian dari segala aspeknya. Adapun riwayat yang masyhur bahwa hal ini berlangsung selama tiga tahun atau 2 tahun setengah tidaklah benar sama sekali, namun di sini bukan momen yang tepat untuk membantahnya secara terperinci.

            Pada masa vakum tersebut, Rasululloh sholallohu ‘alayhi wa sallam dirundung kesedihan yang mendalam dan diselimuti oleh kebingungan dan kepanikan.

            Dalam kitab “At-Ta’bir”, Imam Al-Bukhari meriwayatkan naskah sebagai berikut:
       “Berdasarkan informasi yang disampaikan kepada kami, wahyupun mengalami masa vakum sehingga membuat Nabi sholallohu ‘alayhi wa sallam sedih dan berulang kali berlari kencang agar dapat terjerembab dari puncak-puncak gunung, namun setiap kali beliau mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, Malaikat Jibril menampkkan wujudnya, seraya berkata “Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau benar-benar utusan Alloh!” sepirit ini dapat menenangkan dan menstabilkan kembali jiwa beliau, lalu beliau pulang. Namun mana kala masa vakum itu masih terus berlanjut beliaupun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya; dan ketika dia mencapai puncak gunung, Malaikat Jibril kembali menampakkan wujudnya dan berkata kepada beliau sholallohu 'alayhi wa sallam seperti sebelumnya.

JIBRIL ‘ALAYHIS SALAM  TURUN KEMBALI MEMBAWA WAHYU

            Ibnu Hajar berkata, “Adanya masa vakum ini bertujuan untuk menghilangkan ketakutan yang dialami oleh Rasululloh sholallohu ‘alayhi wa sallam dan membuatnya penasaran untuk mengalaminya kembali.” Ketika hal itu benar-benar terjadi pada beliau, beliau mulai menanti-nanti datangnya wahyu,
maka datanglah Malaikat Jibril ‘alayhis salam untuk ke dua kalinya.

            Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia mendengar Rasululloh sholallohu ‘alayhi wa sallam menceritakan tentang masa vakum itu, beliau bertutur, “Ketika aku telah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit ternyata Malaikat yang telah mendatangiku ketika di Gua Hira sekarang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Akupun terkejut karenanya hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku pulang kepada keluargaku sembari berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” lantas menyelimutiku, maka Alloh menurunkan firmannya:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥)
“Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,” (QS. Al-Muddatsir: 1-5). Setelah itu wahyu turun secara berkesinambungan dan teratur.

            Dalam shahih al-Bukhari disebutkan, “Aku tinggal di Gua Hira selama sebulan. Lalu tatkala sudah selesai melakukan itu, maka aku turun gunung. Dan ketika aku berada di sebuah lembah, ada suara yang memanggilku..” (kemudian diketengahkan teks hadits sebagaimana yang telah disebutkan di atas). Inti darinya bahwa ayat tersebut turun setelah beliau menjalani bulan Ramadhan secara penuh di sana. Dengan demikian berarti masa vakum antar dua wahyu tersebut berlangsung selama 10 sebab beliau sholallohu ‘alayhi wa sallam tidak lagi menjalani Ramadhan berikutnya setelah turunnya wahyu pertama.

            Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan beliau sholallohu ‘alayhi wa sallam, di mana datang masa kenabian yang berjarak rentang masa vakum turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif (tugas syari’at) besarta penjelasan konsekuensinya.

Kunjungi artikel terkait:
1. Seruan Di Atas Bukit Shofa
2. Bagaimana Shalat Nabi Sebelum Diwajibkan Shalat 5 Waktu
3. As-Sabiqunal Awwalun (Orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam)
4. Di Bawah Naungan Kenabian dan Kerasulan
5. Sifat Rasulullah di Dalam Al Qur'an dan Kitab Sebelumnya


Artikel Terkait

Previous
Next Post »